Sejak lama dunia literasi anak Indonesia tidak banyak berubah. Kisah-kisah yang dihadirkan mengandung banyak nilai moral dan pesan kesantunan adat ketimuran. Legenda, fabel, dan cerita rakyat mengajarkan kita cara hidup yang dianggap paling ideal: menjadi orang yang baik dan menyenangkan. Jika tidak, kesengsaraan menanti kita di masa depan. Berbagai cerita dikemas dengan narasi yang mengarahkan kita untuk tidak mengeluh, ramah, dan (yang paling penting) penurut.

Di tengah kondisi yang statis ini, Na Willa hadir dengan cerita yang lebih jujur. Berkisah tentang keseharian seorang gadis kecil yang tinggal di sebuah gang di kota Surabaya, Na Willa, buku yang judulnya diambil dari nama tokoh  utamanya ini, memberikan warna tersendiri dalam dunia literasi anak Indonesia. Buku ini ditulis oleh Reda Gaudiamo dan diilustrastori oleh Cecilia Hidayat. Dengan tebal  kurang lebih 106 halaman, Na Willa berisi 36 bab dan dilengkapi ilustrasi untuk setiap babnya. Buku ini mengangkat isu multikultural yang dilihat dari kacamata seorang anak dari golongan minoritas, sebuah topik yang jarang ditemui di buku-buku anak Indonesia.

Baca juga: Empat Buku yang Membaca Masa Lalu atau Mungkin Masa Depan Mahasiswa Seperti Anda

Si kecil Na Willa tidak mengerti kenapa satu kelas tertawa keras saat Bu Tini, menyebut namanya: “Na Willa”. Bahkan Bu Tini juga ikut tertawa. “Apa yang lucu? Kenapa kalian tertawa? Aku tak suka”, ucapnya dalam hati. Na Willa membanting kakinya keras-keras. Seisi kelas kaget. Bu Tini berhenti tertawa.

Sekilas memang Na Willa tampak seperti anak pemarah dengan watak yang keras. Berbeda sekali dengan buku anak pada umumnya yang menyuguhkan seorang tokoh utama dengan sifat yang lembut dan penurut. Akan tetapi, jika ditelisik lebih seksama, wajar saja Na Willa bersikap demikian. Ia marah sekaligus kecewa. Na Willa masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa sebagai minoritas, ia harus menerima jika sewaktu-waktu diperlakukan berbeda. Ia juga masih terlalu polos untuk memaklumi saat dirinya menjadi objek yang ditertawakan. Na Willa memberontak. Seisi kelas semakin tidak menyukainya.

Warno, seorang anak disabilitas yang tinggal tidak terlalu jauh dari rumahnya, selalu meneriakinya “Asu Cino”. Suatu hari ketika Warno meneriakinya lagi, Na Willa menghampirinya. Ia menarik kaki Warno hingga kepalanya menyentuh tanah kemudian menginjak tangannya. Warno langsung berteriak memanggil ibunya. Na Willa lari, pulang ke rumah. Setelah mendapat pengaduan dari Ibu Warno, Na Willa langsung dimarahi Ibunya. “Tapi dia bilang aku Cino!”, teriak Na Willa, membela diri. “Tapi kamu memang Cino, bapakmu Cino!”, teriak ibunya sambil mencubit Na Willa. “Tapi dia bilang aku asu!”.

Na Willa memberi nama bonekanya Melly. “Kenapa namanya Melly?”, Farida heran karena nama Melly bagi Farida terdengar seperti nama orang Cina. Bagi Farida, Na Willa bukan wong Cino. “Makmu bukan Cino. Jadi kamu bukan Cino.” Farida menarik ujung matanya. Mereka berdua tertawa. Nama Melly diganti menjadi Atik.

Karya ini membawa pesan tentang menjadi manusia seutuhnya. Bahwa sejatinya, adalah hal yang normal untuk kecewa, menangis, dan marah terhadap sesuatu yang menyakitkan hati. Kerap kali kita dituntut untuk tabah, sabar, dan pasrah menghadapi ketidak-adilan. Sedari kecil, kita diberikan cerita-cerita yang berpesan bahwa kita harus menjadi baik dan submisif agar disenangi banyak orang. Kita harus sabar, dengan begitu, waktu akan membalas orang yang telah berbuat jahat dengan sendirinya. Kita harus pasrah dan semua hal akan baik-baik saja. Dan faktanya, semua hal tidak baik-baik saja.

Na Willa merupakan representasi anak-anak dari kalangan minoritas Indonesia. Di usia belia, mereka harus sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan yang cenderung kurang bersahabat. Harus bersiap diri jikalau sewaktu-waktu ada yang terkejut mendengar namanya. Untung kalau yang mendegar itu tidak tertawa. Mereka juga harus terima jika ada yang memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung rambut melihat dengan tatapan “kamu berbeda, bukan bagian dari kami”.

Baca Juga: Orang-orang Oetimu dan Keganjilannya

Hal ini menyiratkan masih minimnya pendidikan karakter pada anak-anak, khsususnya menyangkut pluralisme. Atau mungkin anak-anak kita sudah terlalu sibuk mempelajari hitung-hitungan dan bahasa asing sehingga tidak punya waktu lagi untuk belajar menjadi manusia, menghargai dan menyadari bahwa semua orang itu setara. Sehingga, ketika tumbuh dewasa, mereka merasa superior dengan prinsip: Berbeda-beda (asal bukan yang itu) tetap satu jua. []

Penulis: Suciati Agustin, mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles