Terkadang sebuah cerita yang menarik tercederai oleh satu bagian yang tidak mampu meyakinkan pembaca. Hal itulah yang saya alami ketika selesai membaca novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi. Satu bagian cerita di dalam tersebut membuat saya merasa ada keganjilan besar di dalam karya yang berhasil menjadi pemenang pertama pada sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 2018.

Setelah pembacaan pertama, saya kemudian melakukan pembacaan kedua dengan usaha yang sedikit lebih keras untuk memetakan setiap bagian cerita yang ada di dalam novel. Setidaknya, saya menemukan tujuh “sumber” kisah utama yang dibentuk menjadi dua alur utama. Alur utama itu ditengarai oleh dua tokoh yaitu, Sersan Ipi dan Silvy. Dua tokoh itu kemudian dipertemukan dan dijahit oleh penulis menjadi satu cerita utuh yang diberi judul: Orang-Orang Oetimu.

Novel ini dimulai dengan sebuah kisah tentang seorang polisi bernama Sersan Ipi yang mengundang orang-orang di kampung Oetimu untuk hadir menyaksikan pertadingan final Piala Dunia antara Prancis berhadapan dengan Brazil. Undangan itu bukan tanpa sebab, Sersan Ipi ingin mengumumkan dan merayakan kebahagiaannya karena telah mendapatkan kesepakatan untuk menikah dengan Silvy, gadis primadona sekaligus idola pemuda di Oetimu.

Baca juga: Tiba Sebelum Berangkat: Menerka Alasan Batari Meninggalkan Mapata

Pada malam itulah, Sersan Ipi menjemput Martin Kabiti, seorang mantan tentara yang menjadi tokoh masyarakat yang berpengaruh di kampung Oetimu. Fragmen kisah malam itu menjadi awal sekaligus akhir di dalam cerita. Saat mengantar Martin Kabiti, Sersan Ipi tewas di tangan kawanan perampok yang diketuai Antonio.

Sersan Ipi dapat dikatakan menjadi tokoh utama di dalam cerita. Kisahnya, dimulai sejak ibunya, Laura menjadi korban perang di Timor. Laura hamil di usia yang masih belia, sedang kedua orang tua Laura telah ditembak mati oleh tentara.

Saat berhasil menyelamatkan diri, Laura melakukan perjalanan jauh hingga akhirnya memasuki kampung Oetimu. Di kampung itu, ia diselamatkan oleh Am Siki, seorang lelaki tua yang memiliki kisah heroik menumpas segerombolan penjajah Jepang. Pada akhirnya, Am Siki yang membesarkan Sersan Ipi hingga menjadi seorang polisi.

Baca juga: Antara Felix Nesi dan Spotlight: Sebuah Usaha Mendukung Orang-Orang Berbicara

Demikian, Sersan Ipi menjadi tokoh yang lalu menghubungkan kisah-kisah di dalam cerita menuju cerita yang lain. Kisah hidup orang tua Sersan Ipi, pertemuannya dengan Am Siki, dan kisahnya dengan Martin Kabiti di malam final Piala Dunia.

Alur cerita yang kedua ditengarai oleh Silvy, seorang perempuan yang dikisahkan memiliki daya pikat terhadap anak-anak muda di Oetimu. Silvy menjadi bagian dari kisah hidup ayahnya Yunus, pamannya Daniel, Romo Yosef, dan Linus.

Silvy dibesarkan oleh ayahnya Yunus. Seorang lelaki yang hidup luntang lantung dan kemudian memilih merantau. Saat Yunus merantau tanpa arah, Silvy kemudian hidup bersama pamannya, Om Daniel. Silvy kemudian didaftarkan di SMA Santa Helena dan menjadi murid yang sangat cerdas.

Sebelum berkisah tentang bagaimana Silvy meninggalkan SMA Santa Helena, terlebih dahulu dikisahkan bagaimana Romo Yosef meminta dipindahkan dari keuskupan di kota karena merasa bersalah setelah dirinya kedapatan oleh romo ketua sedang mengecup bibir Maria.

Baca juga: Empat Buku yang Membaca Masa Lalu atau Mungkin Masa Depan Mahasiswa Seperti Anda

Sementara Linus, dikisahkan sebagai seorang anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang tentara, tetapi selalu gagal. Kegagalan kemudian membuatnya menempuh jalur lain menjadi seorang mahasiswa dan mendaftar Resimen Mahasiswa (Menwa), meski akhirnya juga gagal. Linus menjadi tokoh yang digambarkan seperti lelucon kenakalan seorang mahasiswa yang berkutat dengan kehidupan seks dan dunia tipu-tipu.

Demikian dua alur cerita yang berisi berbagai macam kisah “etnografis” yang menegangkan sekaligus dipenuhi lelucon yang menggelikan hati. Felix mampu bercerita tentang kekejaman tentara Indonesia saat bertugas di Timor Timur yang kemudian membuat Laura hamil dan melahirkan Sersan Ipi. Felix juga mampu menyihir pembaca tentang Am Siki yang membantai Jepang karena persoalan kudanya yang hendak diperkosa tentara Jepang.

Selain itu, kisah cinta “terlarang” Romo Yosef dengan Maria menjadi satu kisah yang membuat kita berdebar-debar. Kemudian yang paling berkesan, kisah jenaka tentang Linus yang gagal menjadi tentara kemudian menjadi mahasiswa sekaligus bampol. Ia juga berhasil meniduri banyak perempuan dan menipu orang tuanya sendiri dengan menggunakan berbagai istilah asing untuk meminta berbagai pembayaran kuliah. Semua itu tersaji dengan segar melalui kisah yang terkisahkan dalam novel Orang-Orang Oetimu.

Baca juga: Kisah Penderitaan, Teks, dan Kejahatan yang Ditulis

Felix kemudian menjahit cerita itu menjadi satu kesatuan dengan mempertemukan Sersan Ipi dengan Silvy. Mereka memutuskan menikah setelah bersenggama di ruang dapur rumah milik Om Daniel. Akan tetapi, untuk sampai ke tahap itu, muncullah berbagai macam keganjilan yang seolah memaksakan cerita itu menjadi kesatuan, terutama berkaitan dengan tokoh Silvy.

Silvy dikisahkan sebagai perempuan yang cerdas, dengan gaya bicara yang berbobot. Silvy membuat gurunya tak berkutik di kelas dan paling utama ia memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Hal ini tergambar dalam pertemuan seorang Romo Yosef dengan seorang Profesor.

“Saya selalu merekomendasikan agar anak-anak seperti itu segera dikirim ke Universitas,” jawab Profesor. “Ia seharusnya mengerjakan penelitian, bukan duduk dan mendengarkan celoteh guru SMA.”

Demikian gambaran tentang kecerdasan Silvy setelah diuji oleh asisten Profesor serta Profesor tak bernama itu sendiri secara langsung. Tak ada musabab pasti di dalam cerita mengapa Silvy bisa secerdas itu. Hal ini mulai terbaca tidak rasional pada novel ini. Hanya saja, keraguan itu masih bisa tertolong oleh kisah masa kecil Silvy yang sering dibawakan koran dan buku bekas oleh ayahnya yang bekerja di toko buku. Meski tidak terlalu meyakinkan, tetapi itu cukup menjadi alasan mengapa Silvy secerdas itu.

Baca juga: Kisah Penderitaan dengan Buku

Keganjilan lain kemudian mencuat. Silvy yang diceritakan sebagai seorang perempuan cerdas nyatanya tidak secerdas yang digambarkan. Silvy justru tidak dapat mengendalikan dengan baik perasaan dan hawa nafsunya. Hal ini tentunya menyisakan tanda tanya besar mengapa Silvy digambarkan sebagai seorang karakter perempuan muda yang tidak mampu menahan hawa nafsunya hanya karena melihat dada Romo Yosef yang sedang menderita kesakitan.

“Di kasur tanpa seprai Silvy membaringkan dirinya. Napasnya tidak beraturan. Ia memejam sambil berusaha mengatur kembali napasnya. Namun tak lama kemudian ia mendengar kembali suara erangan itu.

“Maria…Maria…”

Ia tak kuasa lagi bertahan. Disisipkannya tangannya ke celananya. Sudah kuyup. Diremas di situ. Bulu kuduknya meremang.”

Ini sungguh menjadi  bagian yang tidak masuk akal. Hal itu kemudian coba untuk diyakinkan penulis dengan mengaitkan erangan yang biasa Silvy dengarkan di balik kamar tidurnya saat ayahnya sedang bercinta dengan perempuan lain. Ia kemudian tidak bisa menahan diri. Padahal Romo Yosef tidak sedang dalam erangan penuh nafsu, Romo Yosef mengerang karena rasa sakit yang dideritanya dan menyebut nama orang yang ia cintai, Maria. Jika pembaca jeli sedari awal, maka kita akan paham tak ada sedikitpun erangan untuk memancing birahi. Tetapi mengapa Silvy justru begitu tergoda.

Baca juga: Surat untuk Jo Yi-seo atas Tulisan Arlin tentang Itaewon Class

Hal ini kemudian diperparah dengan narasi tentang Silvy yang membiarkan, bahkan terkesan menginginkan persetubuhan dengan lelaki yang menghampirinya. Bagaimana mungkin seorang perempuan baik nan cerdas dengan mudah membiarkan penis lelaki asing memasuki kemaluannya. Hal ini sungguh tidak berterima di horizon saya sebagai seorang pembaca.

Selain itu, di bagian lain dikisahkan bahwa Silvy memutuskan untuk meninggalkan sekolah dan ke rumah Om Daniel karena ingin mencari lelaki lain yang layak untuk dijadikan suami ketimbang Linus, guru yang telah menyetubuhinya. Hal ini terasa semakin ganjil, mengapa Silvy membiarkan Linus melakukan tindakan semacam itu, sedang lelaki tersebut adalah lelaki yang sama sekali tidak bisa diandalkan.

Pada titik ini, saya merasa Silvy dibentuk menjadi sedemikian rupa untuk memaksakan pertemuannya dengan Sersan Ipi. Seperti yang kita ketahui, karena takut hamil, (meskipun sebenarnya Linus adalah lelaki mandul), Silvy memilih untuk meninggalkan sekolah karena berpikir bahwa ia harus menentukan sendiri siapa lelaki yang ingin ia jadikan suami.

Baca juga: Relasi Bahasa dan Identitas

Hal inilah yang kemudian mempertemukan Silvy dengan Sersan Ipi. Saat itu Sersan Ipi mengunjungi rumah Om Daniel untuk membicarakan permasalahan sekolah yang ditimbulkan oleh Silvy. Pada saat itulah, Sersan Ipi langsung jatuh hati pada Silvy. Basa-basi yang terjadi pada akhirnya berakhir dengan percintaan mereka di ruang dapur. Sersan Ipi memutuskan untuk melamar Silvy yang dirayakannya dengan mengundang orang-orang untuk menonton bola.

Pertemuan Silvy dengan Sersan Ipi dengan sebab yang terkesan dipaksakan menjadi jalan penulis untuk menyatukan dua alur cerita, Sersan Ipi di satu sisi, dan Silvy di sisi yang lain. Hanya saja, saya sebagai pembaca merasa pertemuan itu telah menghacurkan kekaguman saya terhadap novel Orang-Orang Oetimu.

Sebagai sebuah fragmen cerita, saya sangat terkesan dengan kisah dan humor yang dihadirkan pada novel Orang-Orang Oetimu. Hanya saja, sebagai satu kesatuan cerita, saya berpikir alur dan sebab-akibat untuk mempertemukan Sersan Ipi dengan Silvy terlalu dipaksakan dan merusak tokoh Silvy begitupun keseluruhan cerita.

BACA JUGA Artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles