Berikut ini adalah kutipan fiksi dari novel Yang Tersisa dari Yang Tersisa (2020). Ditulis oleh Nurhady Sirimorok. Penulis menyelesaikan studi master di Institute of Social Studies, Den Haag, Belanda, di bidang Rural Livelihoods and Global Change, 2007. Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya, dan Modernisasi Indonesia (InsistPress, 2008), Melihat Desa dari Dekat: Catatan Perjalanan Tentang Satu Bahasa (EA books, 2018), dan Belajar Kritis dari Luar Sekolah (Penerbit Akasia, 2020).

***

Orang-orang kembali berlomba menanam cengkeh di kabupaten sebelah. Kabarnya, itu terjadi sejak Gus Dur menjabat Presiden. Ia cabut satu aturan dan harga cengkeh kembali tegak.

Hebat juga kalau dipikir-pikir, satu orang menandatangani satu aturan, jutaan pohon tumbang, ribuan kampung kehilangan masa depan, ditinggalkan anak muda. Lalu, satu orang lain menandatangani selembar aturan lain dan keadaan berbalik, ribuan kampung kembali menyala. Bukan main, butuh tiga jari saja untuk menggerakkan satu pulpen, satu tanda tangan tertera di atas selembar kertas, dan aku perlu meraung ribuan kali sambil menggelepar di pekarangan sebelum sekaleng kecil kelereng sampai ke tanganku. Satu-satunya alasan orang dewasa mengabulkan permintaan seorang bocah karena malu dilihat tetangga.

Bayangkan berapa banyak orang harus meraung, berapa lama mereka harus meraung, sebelum Gus Dur menjadi presiden dan menggerakkan tiga jarinya.

Tetapi sekarang keadaannya berbeda. Maksudku, pohon-pohon cengkeh itu mulai berbunga, gunjingan sudah beredar tentang sebelas orang Tompotikka yang berangkat untuk memetik, persis ketika kami menanti ancaman babi hutan.

“Kalian harus tahu, sekarang ini, orang-orang Tompotikka sudah siap-siap,” kata Ogi. “Kalau kampung sendiri semakin sulit memberi rezeki, para pemetik cengkeh itu bisa saja memutuskan tinggal di sana.”

Supri memotong, “Tapi, orang Tompotikka dulu selalu pulang begitu selesai memetik, mereka di sana cuman dua tiga bulan.”

“Ini yang perlu kalian tahu, harga cengkeh sekarang jauh lebih tinggi daripada dulu. Perbandingannya seperti Supri dan pohon kelapa. Semua manuisa yang masih waras pasti mau uang sebanyak itu. Mereka menanam cengkeh seperti orang gila, mereka sampai buka hutan, dan, seperti kita, waktu itu anak-anak muda di desa-desa cengkeh itu banyak juga yang merantau. Sekarang mereka masih di tanah seberang, beranak pinak di sana, sama seperti orang Tompotikka. Kalian tahu artinya apa? Mereka membuka kebun lebih banyak daripada yang sanggup mereka kelola sendiri. mereka pasti butuh lebih banyak pekerja untuk menjaga kebun, lebih banyak orang Tompotikka pasti menyusul.”

***

Dikutip dari novel Yang Tersisa dari Yang Tersisa, karya Nurhady Sirimorok Diterbitkan oleh Buku Mojok, sebagai cetakan pertama, November 2020.

***

Mungkin dia adalah mantan pacarku. Begitulah kamu mengiranya, ketika kamu pertama kali mendengarkan cara ia berbicara, seperti mendengar Sonia menyanyikan lagu Kau Sebut Namaku, irama kata-katanya jelas terdengar melayu, setiap kali mengucapkan kata yang berakhiran “A”. Dia, orang yang kau kira sebagai mantan pacarmu, sedang berada di balik punggungmu, menerima sebuah panggilan dari ponselnya dengan logat daerah yang totok pegunungan, dan kamu berusaha menyesap kopi yang terlalu pahit.

Tadi, di dalam kafe ini, meski di luar sedang hujan dan kamu bersikeras memilih duduk di depan pendingin ruangan, kamu masih bisa membaca Novel Yang Tersisa dari Yang Tersisa sebagai “pembaca yang fokus”. Sebelum kamu mengucapkan, “Suaranya, memang mirip mantan pacarku.”

Fokus.

*

Novel Yang Tersisa dari Yang Tersisa, secara keseluruhan, menilik dari gagasannya, bagus sekali untuk memberimu pelajaran mengenai ilmu ekonomi politik dan relasi kuasa yang menali di perdesaan. Ada beberapa bagian, ketika narator menegaskan, bagaimana relasi kuasa muncul dan bekerja dari tangan Pak Desa, dan orang-orang kaya di desa Tompotikka. Pelajaran itu, dalam konteks lainnya, juga akan membantumu, jika kau adalah orang kota, untuk memikirkan kembali romantisasimu terhadap hening dan keindahan desa, seperti yang sering disuguhkan eksotisme jejak-jejak petualangan di televisi. Bahwa desa, seperti ditata sebagai jalan keluar dari bising perkotaan. Tetapi, bagi narator novel ini, hidupnya di desa seperti hidup di dalam neraka yang terlalu cepat berkunjung, dan salah alamat.

*

Dia memang mantan pacarku. Begitu kamu memastikannya. Tapi, kamu tidak mau menoleh untuk mendapatkan kebenaran yang empiris. Atau menyambutnya setelah sepuluh tahun kamu berpisah dengan alasan yang kejam. Kamu mengatakan ini, “Hubungan kita (meski hanya terhitung 2 hari kurang satu jam) harus berhenti disini. Aku tidak ingin orang-orang tahu, bahwa aku pacaran dengan drum aspal.” (Kamu betul-betul kejam).

Sekarang, kamu tahu, dia berubah, jauh melampaui perubahan Paris, terhitung dari sejak abad ke-18. Mantan pacarmu, sekarang, secantik perempuan yang tidak pernah kamu duga, akan cocok menjadi cantik. Kamu lalu meluruskan punggung, dan berusaha tampil segagah mungkin. Sesekali, kamu melihat jam tanganmu yang sudah tidak berdetik lagi. Peragaan itu, kamu kira, bisa membuatmu mirip aktor-aktor TV-Series Drakor yang berperan sebagai direktur perusahaan besar. Bahwa, dengan cara itu, mantan pacarmu akan mengenalimu, lalu memanggilmu, dan kamu akhirnya punya alasan untuk bertegur sapa.

Fokus.

*

Ketika kamu membaca kutipan yang kubacakan di atas, kamu sekarang tahu, akan kamu jawab seperti apa pertanyaan, “Bagian mana yang paling kau sukai dari novel itu?” yang barangkali, sebentar lagi akan ditanyakan mantan pacarmu.

Narasi novel ini memaparkan keadaan berbalik dari kebijakan yang tepat, yang membuat raungan tangis dari penduduk Desa Tompotikka terdengar miris dan melarut. Tiga jari ajaib Gus Dur, tidak bisa diteruskan oleh tangan yang lain. Sehingga dalam keadaan papa, orang-orang yang kesulitan hidup di Desa Tompotikka, tampak nyaris memandang kepapaannya sebagai hal yang wajar. Mereka, jika mampu, menumbuhkan hidupnya di desa, untuk menyesuaikan, antara hidupnya yang sengsara dan pilihan-pilihan yang sedikit, yang bisa mereka jangkau. Jika tidak mampu, mereka harus pergi dari desa. Naratornya, meriwayatkan laku persahabatannya yang harus berpisah dan meninggalkan desa untuk sekadar pergi, tidak berpikir untuk pulang, karena desa, tempat mereka tumbuh, seperti sengaja mengusir mereka.

Kamu setuju denganku, dan agar terlihat intelek di depan mantan pacarmu, kamu menegaskannya dengan suara yang agak keras, bahwa hubungan sosial yang bertingkat di Desa Tompotikka, dengan segala tragedinya, tidak pernah terlepas dari sistem yang lebih luas, yaitu Negara. NEGARA! Adalah penyokong yang memberi pernyataan sah terhadap sumber daya produktif perdesaan. Dan apa yang terjadi di Desa Tompotikka adalah riwayat dari sebuah negara yang menjelma karnivora buas. Hampir sama, dengan sebuah pulau karnivora yang dihuni oleh koloni merekat, tempat Pi Patel memakan ganggang di dalam novel Life of Pi, karangan Yann Martel.

*

“Coba lihat tampilanku? Bagaimana menurutmu?”

Kamu bertanya kepadaku dengan wajah yang tiba-tiba secerah lampu-lampu pasar malam. Tapi, bentuk pertanyaanmu seperti pertanyaan Playstore, yang bermunculan sejam setelah pemakaian, dan itu sungguh menyebalkan. Dengan sweter hitam, yang kerahnya berasal dari kemeja putih dibaliknya, dan rambutmu yang dipotong two block, membuatmu terlihat seperti orang kantoran yang makan dari gaji buta. Karena kamu sedang berada di depanku, pada jam sepuluh pagi, pada hari senin yang sibuk, di tengah-tengah kota yang masih bernapas dengan setengah paru-parunya. “Dari lima bintang, kamu hanya dapat 1,2.” Dengan kata lain, kamu tidak pantas muncul dihadapannya, bahkan hanya sebagai iklan YouTube yang diskip. Meskipun begitu, kamu berhak percaya diri, karena kamu memiliki modal nostalgia.

Fokus.

*

Narator novel ini: Amir Kopleng. Lebih suka dipanggil Kopleng daripada Amir, karena jasanya yang bukan main mengumpulkan tali kopleng dari berbagai bengkel motor di kota, untuk kebutuhan mengusir babi. Tapi, ketika kamu mengenal naratornya, yang kamu ingat tentang tali kopleng, sama seperti yang aku ingat, dia adalah Uwak, guru mengaji sewaktu kita masih SD, yang mencambukmu dengan tali kopleng, karena kamu selalu tidak bisa membedakan mana huruf “sya”, dan mana huruf “tsa”.

Fokus

*

Amir Kopleng adalah salah satu bagian dari kelompok Jarum Super yang bermarkas di kampus, kolong rumah Ogi. Jarum Super adalah penamaan yang terbentuk sebagai akronim. Meskipun begitu, kamu mengira, Jarum Super memang adalah Djarum Super, yang rokoknya dibuat untuk dihisap habis. Dan, nasib yang mengitari kelompok Jarum Super, meski awalnya terbentuk sebagai golongan pemuda desa yang sepakat membenci telunjuk orang dewasa, mereka akhirnya harus melawan sesuatu yang tak terlawan. Dan itu, lagi-lagi Negara. Perpisahan mereka yang pahit membuatmu mengingat penggalan puisi Afrizal Malna dalam Meteran 2/3 Jakarta, “Kelahiran menghadapi jalan buntu dalam daftar penduduk kota dan pajak penghasilan. Keduanya (kematian dan kelahiran) bertemu dan berpisah, seperti sahabat yang belum pernah bertemu dan belum pernah berpisah … Saling menunggu antara hari rabu dan minggu. Nanti atau besok, atau kami berdua memang tidak pernah ada, sebagaimana tuan menciptakan makna dalam kandang ayam yang tak ada ayamnya.”

*

“Menurutmu, mantan pacarku, cantik?” Seperti katamu, Dia memang seperti baru saja cantik. Wajahnya seperti baru saja simetris, hidungnya seperti baru saja tumbuh, matanya seperti baru saja terbit, bibirnya cerah dan cara ia berpakaian, benar-benar rapi seperti sedang mengerjakan ujian masuk STAN. Dia memang cantik, namun terlalu cantik untuk kamu miliki sekali lagi. kenyataan itu memang akan melukaimu, tapi cobalah berpikir seperti benak Amir Kopleng, “Saudaraku, cinta tidak harus memiliki. Jika kamu tidak bisa menerimanya, wajahmu akan lembek karena terlihat bodoh.” Dengan kata lain, “Dua hari sudah cukup untuk seorang diktator cinta, sepertimu.”

Baiklah, Fokus.

*

Amir Kopleng duduk di dalam ruang cerita ini, sebagai narator yang tampak seperti pusaran badai di tengah laut. Mula-mula, Amir Kopleng terlalu banyak bercerita mengenai Ogi, hanya Ogi, Sehingga, dua sahabatnya yang lain, hampir tidak memiliki porsi latar belakang, hampir tidak memiliki “daging”, sehingga mudah dilupakan. Amir, bahkan posisinya sebagai narator, baru memiliki porsi cerita ketika Ogi pergi dari Desa Tompotikka untuk mengumpulkan tali kopleng. Dengan kata lain, jika novel ini hendak menyampaikan ajaran persahabatan, maka bentuknya akan seperti menyaksikan keseharian Spongebob dan Patrick yang ceria, tetapi tanpa kehadiran wajah sungut Squidward Tentacles. Meski begitu, pada salah satu bagian cerita, narator menyampaikan bahwa lagak Ogi di depan sahabat-sahabatnya, meski ambigu, seperti, “orang dewasa yang pandai memainkan telunjuk,” sehingga Amir Kopleng dibuat selalu menyorot Ogi. Karena itu, kamu bisa menerima, kenapa kamu sulit sekali mengingat dua anggota Jarum Super yang lain. Dan, ini juga menurutmu, jika saja ada kelompok pemuda anti Jarum Super yang kerjaannya hanya mengangguk perintah orang-orang dewasa, maka mungkin plotnya akan lebih menarik.

Namun, untuk membawa novel ini ke depan meja diskusi, dalam skala perdesaan. Kamu bisa menjelaskan banyak hal mengenai bagaimana tali kekuasaan itu menali di sekitar sumber daya produktif perdesaan. Misalnya, pada bagian ketika narator memaparkan, kurang lebih seperti ini, “Orang-orang yang bermodal kuat membayar orang untuk meratakan tanah, lalu menjadikannya sawah. Mereka yang sudah sejak awal memiliki rezeki yang berlebih, akan memiliki sawah yang lebih luas. Sawah yang sempit, menghasilkan beras yang sedikit, yang hanya cukup untuk pemilik sawah. Sedangkan, sawah yang luas akan menghasilkan beras yang berlebih untuk dijual. Tetapi mereka lebih memilih untuk menjualnya di pasar, di luar jangkaun penduduk desa setempat. Sebab, jika sudah sampai di pasar, di luar desa, harga beras tidak lagi terjangkau. Orang-orang Tompotikka yang memiliki sawah yang sempit, atau yang bekerja sebagai buruh, dengan kata lain, kesusahan menyantap beras asli desa Tompotikka. Sebagai gantinya, untuk mengisi perut dan memiliki sedikit tabungan masa depan, orang-orang Tompotikka memanjat pohon cengkeh di kabupaten lainnya, atau berangkat ke Malaysia jika pohon-pohon cengkeh itu sudah tumbang.” Dengan mengikuti tali penjelasan itu, Kamu bisa dengan segera menangkap bagaimana hubungan orang kaya dan orang miskin di perdesaan begitu menimpang.

*

Meski dengan sedikit sisa kepercayaan diri, dan kamu mengaku bahwa jantungmu seperti mau copot, setiap kali mendengarnya berbicara, kamu akhirnya berani menoleh ke belakang, mengarahkan tatapmu kepadanya, tetapi tidak cukup lima detik, yang berarti, matanya tidak sempat bertumbukan dengan matamu, kamu kembali memandang ke arahku.

Wajahmu tiba-tiba saja sumringah, seperti baru saja mengagalkan mimpi buruk di dalam pikiranmu.

“Anjay, kawan. Ternyata dia bukan mantan pacarku.”

“Hahahaha.”

“Bisa tidak kita kembali Fokus, bagaimana tadi?”

*

Jika kamu tidak mengikutinya sejak awal, cukup kamu ingat saja dialog menarik yang menutup novel ini. “Lihat … Mereka memakai apa yang mereka punyai, kepala yang kuat untuk membobol dinding. Dengan itulah babi-babi hutan itu mengirim pesan agar kita menghormati mereka … Itu seperti yang kita lakukan, kita berempat, dan seluruh Tompotikka mengangkat tombak setelahnya.” Paragraf ini, akan menegaskan kepadamu, bahwa dengan kenyatan yang paling keras sekalipun, seperti kenyataan pahit yang dihadapi kelompok Jarum Super, kamu harus menolak menyerah, meski kelihatannya, dunia tempatmu tumbuh, tidak ingin bersahabat. []

BACA  JUGA artikel  Kutipan Fiksi  lainnya di sini. Atau artikel Ma,ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles