Saya adalah alumni pesantren ketika masuk di SMA umum. Sebagai seseorang yang pernah dikarantina selama tiga tahun dalam sekolah Islam, tentu saja saya jarang (atau bahkan tidak pernah) menemukan perilaku perempuan yang tiba-tiba mendekati saya, dan menempelkan bahunya, lalu sekonyong-konyong menunjukkan keakrabannya.

Saya bertanya-tanya sembari berusaha menjauhkan diri dari lengan empuk teman saya: apakah memang semua perempuan di sekolah umum terbiasa melakukan hal semacam ini? Apakah saya pengecut atau tidak “laki-laki” ketika menghindarinya dan menyuruhnya menjauh dari tubuh saya? Apakah saya menyakiti perasaannya dengan respon saya yang seperti itu?Dari pengalaman yang mengejutkan itu, saya kemudian berpikir ulang tentang hubungan keakraban antara perempuan dan laki-laki.

Dalam hidup, banyak hal yang kita lalui dengan kejutan. Baik itu kejutan yang tidak cukup membuat kita terperanjat atau kejutan yang membuat jantung kita hampir tertukar posisinya dengan paru-paru. Hidup selalu membuat kita terperanjat—pelesetan dari Erich Fromm, hidup selalu membuat kita terasing. Tak ada pemberitahuan yang datang sebelumnya bahwa hidup akan menyiksa kita sepedis ini. Sehingga semua pengalaman yang kita rasa adalah sesuatu yang mengejutkan.

Begitu pun dengan pertemuan saya dengan Junot Díaz. Bukunya yang berjudul The Brief Wondrous Life of Oscar Wao—untuk selanjutnya akan ditulis dengan Oscar Wao saja—sedikit lagi membuat jatung saya benar-benar pindah. Sebuah pengalaman membaca yang benar-benar absurd. Banyak hal yang mengejutkan dalam hidup kita, tetapi membaca Oscar Wao adalah sesuatu yang  benar-benar mengejutkan.

Saya adalah pembaca awam, seawam pengalaman saya ketika pertama kali masuk SMA umum. Saya hanya mengenal penggunaan dialog yang memakai tanda petik, bukan yang tidak ada tanda petiknya. Lagi pula, apasusahnya memakai tanda petik? Jujur saja, saya tidak mengerti, juga tidak mengikuti alur cerita. Konsistensi cerita dalam kepala saya berantakan, sebab penggunaan kalimat dalam novel ini tidak lazim bagi saya. Wah, mahasiswa sastra macam apa saya ini!

Butuh konsentrasi lebih untuk mengikuti cerita novel ini. Tidak seperti kebanyakan novel yang menggunakan kalimat yang cenderung gampang dipahami. Novel ini tidak bisa ditaklukkan hanya sekali baca, apalagi dengan kebiasaan membaca cepat. Saya akan meminjam sikap Beli dalam novel ini untuk mempertegas pernyataan saya.

Pak Guru yang Mulia di El Redentor tidak pernah berhasil memaksa si gadis itu mengakui kesalahannya. Beli tak henti menggelengkan kepalanya, setegas Hukum Alam Semesta—Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak.*

Ketika belajar menulis, saya selalu diajari untuk tidak mengulangi kata yang sama dalam satu kalimat. Tapi masalahnya, novel ini membuat kalimat hanya dengan satu kata yang diulangi sebanyak enam puluh enam kali. Kalau kau melakukan ini dipelajaran bahasa Indonesia, kau akan terus mengulangi pelajaran itu tanpa pernah bisa menyelesaikannya sampai guru atau dosenmu telah membaca Oscar Wao.

Novel ini banyak menggunakan istilah populer dari komik; novel; hingga film yang bergenre fiksi ilmiah. Novel ini mejadikan masa kediktatoran Rafael Leonidas Trujillo Molina di Republik Dominika sebagai latar waktu cerita. Novel ini berlatar tempat di daerah yang ada di Dominika (baca saja novelnya agar kau tahu daerah mana saja itu, sekaligus kaubisa membuktikan semua penjelasanku benar atau keliru). Novel ini bercertia tentang Oscar Wao sebagai lelaki yang terkena kutukan—fukú—sehingga dia tidak bisa mendapatkan cinta sejati. Novel ini bercerita tentang keluarga Oscar Wao: tentang ibunya yang bernama Hypatía Belicia Cabral; tentang kakaknya yang bernama Lola. Novel ini adalah kisah cinta. Novel ini tentang proses pertumbuhan tiga manusia dalam satu keluarga dan hubungannya dengan kekuasaan Trujillo. Novel ini tentang fukú.

Saya tidak tahu, saya tidak pernah membaca sedikitpun tentang Dominika. Saya bahkan menganggap kata Dominika adalah kata yang merujuk pada barang elektronik. Saya tidak punya pengalaman seputar Dominika sebelumnya saat membaca Oscar Wao. Dan novel ini, isinya tentang intrik politik yang melingkupi kepemimpinan Trujillo selama menjadi presiden. Namun novel ini menunjukkan dirinya sebagai novel yang bagus. Saya masih bisa menikmatinya, meski tanpa pemahaman Dominika yang saya punya.

Pertama-tama, novel ini dibuka dengan sebuah pengantar  yang berisi tentang penjelasan ringkas seputar fukú. Nanti, setelah membaca itu, pembaca akan mengetahui tema besar novel ini, bahwa kekuatan fukú-lah yang hendak diceritakan. Biarpun ada kisah cinta, intrik politik, cerita keluarga, semua itu hanya menunjukkan betapa berbahayanya fukú.

Ada tiga tokoh yang diceritakan dengan latar belakang kuat—Oscar, Lola, dan Beli. Saya mengikuti dengan serius perkembangan mereka dan menemukan banyak aspek kesamaan. Ini adalah garis besarnya saja: bosan dengan lingkungan sosialnya, lalu masuk sekolah berharap menemukan hidup yang lebih baik di sana, kemudian, karena tidak mendapatkan apa-apa di sekolah, akhirnya kabur dari rumah. Ada satu tokoh lagi—sebenarnya saya tidak tahu betul apakah perkembangan kedirian tokoh ini sama dengan ketiga tokoh yang sudah disebutkan sebelumnya—yang terlibat—atau terjebak—dalam segala aspek masalah keluarga Oscar Wao karena pernah berpacaran dengan Lola. Yunior, begitu Oscar memanggilnya.

Bagian pertama novel ini fokus untuk memperkenalkan empat tokoh yang saling berkelindan dalam cerita, membentuk alur, plot, konflik—apa lagi? Tokoh pertama adalah Oscar. Oscar adalah bocah gemuk, hitam, keriting—sama sekali berbeda dengan bocah yang ada di sampul bukunya. Tolonglah, jangan menyimpan foto siapa pun di sampul buku mana pun—yang tegila-gila pada gadis cantik. Kebiasaan ini akan tetap berlanjut sampai akhir cerita. Dalam hal ini saya melihat Oscar seperti Sisifus. Dia dikutuk untuk terus jatuh cinta dengan gadis yang disukainya namun tidak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Oscar terus mendorong dirinya, mencoba segala cara untuk membuat para gadis-gadis mencintainya. Seperti pengemis kelaparan yang menatap tajam ke etalase makanan dari toko yang ada di depannya, begitu pula Oscar melihat gadis cantik. Yang terjadi justru semua gadis itu menjauh karena jijik padanya. Seperti Sisifus, Oscar selalu berusaha dan melakukannya lagi dan lagi.

Ada masalah besar pada diri Oscar yang membuat usahanya buntu sehingga tidak bisa membawanya ke mana-mana. Dia jelek, hitam, gemuk. Dia suka membicarakan hal-hal yang tak dimengerti orang lain. Banyak lagi kebiasaan anehnya, dan itulah penyebab gadis-gadis menjahuinya. Penampilannya, ya ampun! (tolong baca sendiri biar kau mengerti apa yang kumaksud dengan penampilan itu.) Dia banyak makan, tidak peduli pada penampilannya. Melihat kegagalan demi kegagalan yang menghampiri, Lola, saudara perempuannya menyuruhnya untuk mengubah dirinya.

Oscar, kata Lola mengingatkan, kau akan mati perjaka jika tidak mengubah penampilanmu.

Kau pikir aku tidak tahu? Kalau lima tahun lagi masih tetap begini, aku yakin aku akan jadi Santo dan namaku akan dijadikan nama Gereja.

Dan Oscar melakukan banyak hal untuk mengubah penampilannya. Dia berolahraga dan mengupayakan segalanya. Tetapi tetap saja sama. Kebiasaan lamanya kembali lagi. Lihatlah apa yang dikatakan Oscar untuk membela dirinya di hadapan Lola. Ini adalah salah satu dialog yang saya suka dalam novel ini:

Sepertinya aku ini alergi pada ketekunan, dan Lola menjawab, bukan. Kau ini alergi berusaha.

Dan fokus cerita berpindah pada Lola. Oh, Lola, mengapa kau begitu dibenci oleh ibumu? Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang hubungan perempuan dengan ibunya, lalu bacalah novel ini (terutama pada bagian Lola), dan bandingkan semua cerita perempuan-perempuan itu dengan kisah Lola dan ibunya. Apakah ada di antara ibu mereka yang berani memberi julukan boneka tahi kepada anaknya? Cuma Beli yang bisa seperti itu. Cuma Beli kepada Lola.

Lola dibesarkan dengan sangat kejam oleh ibunya, lebih kejam dari perlakuan Indonesia terhadap PKI. Kita akan dibawa ke satu anggapan umum saat membaca bagian ini, bahwa perempuan harus melakukan hal tertentu yang seharusnya perempuan lakukan. Ibunya mendidik Lola seperti ibu kebanyakan. Kita akan merasakan penderitaan khas perempuan dalam hubungannya dengan Sang Ibu. Namun pada Lola, itu semua adalah sesuatu yang berlebihan. Lola dipukul, Lola dicaci maki, Lola tidak boleh melakukan ini, Lola hanya boleh melakukan itu. Bagi sebagian orang, Ibunya tidak mungkin melakukan hal demikian terus menerus, bahwa dia sesekali mengasihi anaknya. Ibu Lola tidak begitu. Dia tidak pernah menampilkan semacam kasih sayang kepada Lola. Tidak pernah menyunggingkan senyuman ke arahnya, kalaupun pernah itu adalah senyuman kebahagiaan karena berhasil menipu Lola.

Meski Lola pada akhirnya bisa melarikan diri dari rumahnya dan tinggal bersama lelaki yang disukainya, itu semua hanyalah kesia-siaan. Seolah-olah dunia hanya diperuntukan bagi kemenangan Ibunya. Tidak ada sesuatu yang besar yang bisa dia lakukan saat itu. Dia hanya seorang perempuan kulit hitam yang selalu gagal memenuhi keinginannya.

Inilah yang membuat saya sangat menyukai kalimat—di antara semua kalimat yang ada di dalam novel ini—pembuka pada paragraf pertama yang menceritakan bagian Lola.

Selalu bukan perubahan-perubahan yang kita inginkanlah yang mengubah segalanya.

Kita tentu patut mempertanyakan mengapa Beli bersikap seperti itu kepada Lola. Tidak mungkin seorang Ibu melakukannya begitu saja tanpa ada sebab tertentu yang kuat, yang membuat kita tidak menganggap Beli sebagai orang gila. Dan itu terjawab pada bagian selanjutnya.

Beli sebenarnya tidak sebrutal itu kepada anaknya seandainya seluruh keluarganya tidak mati. Orang tua Beli adalah orang kaya. Ayahnya dokter, Ibunya perawat. Dua kakaknya adalah perempuan, satu di antara mereka adalah yang tercantik. Tetapi Beli tidak pernah benar-benar mengetahui mereka semua kecuali dari seorang kerabat jauh, yang akhirnya menemukan Beli dalam keadaan hampir mati terbakar. Orang itu bernama La Inca. Beli tidak mengetahui bagaimana rasanya mendapat kasih sayang dari seorang Ibu. Beli asing dengan itu. Baginya, hidup adalah tentang diri sendiri dan bagaimana memperoleh semua itu dengan kemampuannya sendiri.

Seperti dua tokoh yang diceritakan sebelumnya, Beli juga mendapat banyak kendala dalam hidupnya. Dikeluarkan dari sekolah dan gagal dalam percintaan adalah dua di antara banyak yang lain. Semua masalah itu membuatnya menjadi perempuan yang berani menghadapi banyak masalah hidup. Meskipun keberanian itu membawanya pada satu malapetaka besar yang hampir merenggut nyawanya.

Saya bisa mengatakan bahwa novel ini adalah novel coming of age. Tokoh inti dari novel ini membawa kita pada kalimat yang ada di halaman 93 paragraf tiga, bahwa mereka adalah “remaja yang ingin melarikan diri.” Yang “melarikan diri” pada novel ini bukan saja tokohnya, melainkan juga Republik Dominika sebagai negara. Negara yang ingin melarikan diri dari kediktatoran Trujillo menuju ke alam demokrasi. Kegagalan demi kegagalan juga menyertai “pelarian diri” itu. Kekuatan Trujillo sangat absolut sehingga mustahil untuk melawan dominasinya. Hampir di setiap bagian pada novel ini diselipkan bagaimana cara kerja Trujillo dalam memerintah, bahwa dia tidak sungkan-sungkan untuk mengejar lawan politiknya sampai ke luar negeri dan membunuhnya di sana.

Seperti kebanyakan novel-novel bagus lainnya, pembaca sulit menemukan apa “sebenarnya” yang ingin di sampaikan novel ini. Sebab banyak hal yang penting. Atau mungkin itu memang sebuah kesengajaan, bahwa tidak ada aspek tertentu yang hendak dikatakan, bahwa kalaupun itu ada, terserah pembaca saja yang menyimpulkannya.

Dari novel ini saya akhirnya bisa bernostalgia dengan kenangan saya semasa masuk SMA. Saya melihat diri saya sendiri ketika membaca Oscar yang menggandrungi banyak gadis di sekolahnya. Dengan segala kekonyolan yang saya punya, saya berani mengatakan bahwa saya adalah Oscar Wao sebelum Oscar Wao menjadi Oscar Wao. Sebagai remaja yang minim pengalaman soal perempuan, berhadapan dengan tingkah perempuan seperti tingkah teman sekelas saya, mau tidak mau menuntun saya ke sebuah imajinasi liar khas orang sehabis masuk penjara bertahun-tahun. Tak perlu khawatir dengan imajinasi saya itu. Saya tidak pernah melecehkan mereka sebagaimana Oscar juga tidak melakukannya. Justru saya yang mendapat pelecehan itu sebagaimana Oscar juga dilecehkan.

Tetapi Oscar begitu kasihan karena fukú melingkupinya, membuatnya tidak bisa merasakan kesenangan sejati bersama seorang gadis. Fukú terus membuntutinya, tidak pernah lepas dari hidupnya. Ada kemiripan antara kisah Oscar dan kisah Beli. Sama-sama dipukul di ladang tebu. Apa yang membuat keduanya berbeda adalah Beli (mungkin) mendapatkan zafa­—semacam penangkal fukú—sedangkan Oscar tidak.

Jujur saja, saya selalu tidak peduli dengan istilah yang digunakan pada novel ini, yang sering sekali saya abaikan dan tidak berusaha mencarinya dalam catantan editor yang tertera di halaman ujung setelah akhir novel. Meski begitu, saya tetap bisa mengerti maksud ceritanya. Mengapa banyak kata yang saya abaikan tapi saya malah bisa mengerti serta mengikuti cerita novel ini?

Apakah zafa pada novel ini berfungsi pada saya? Atau apakah ini adalah awal dari datangnya fukú? []

Penulis: Naufal Mahdi, alumnus Sastra Inggris UIN Alauddin Makassar.

*Lihat halaman 114 The Brief Wondrous Life of Oscar Wao karya Junot Diaz yang diterbitkan Penerbit Qanita, cetakan pertama pada 2011 dan diterjemahkan A. Rahartati Bambang Haryo. Novel ini memenangkan penghargaan The Pulitzer Prize for Fiction pada 2008.

Facebook Comments
No more articles