Aku bermimpi. Dan, menyadarinya. Tapi, aku pikir, mimpiku ini terlalu terasa mimpi untuk menjadi sebuah mimpi. Aku juga sering merasakan hal yang sama, ketika orang-orang mengatakan hal-hal tentang ‘benda mati’. Padahal, aku pikir, sebuah benda, terlalu mati untuk disebut sebagai benda mati. Mungkin, orang lain menganggap, bahwa kedua hal itu sama sekali tidak saling terhubung. Namun, kalau dipikir-pikir, hidup dan kenyataan yang menyusunnya, tidak lebih dari sekadar sensasi. ‘Mimpi’ dan ‘benda mati’ terhubung sebagai sensasi yang mengapung di dalam pandangan subjektif setiap orang. Orang-orang menilai sesuatu berdasarkan sensasi yang mereka rasakan. Dan, aku menilai, dengan subjektivitasku, tentu saja, ‘sensasi’ itu seperti teman yang tidak dapat hidup tanpa kita, tetapi juga tidak dapat diandalkan, dan bisa tiba-tiba saja menghilang ketika kita sangat membutuhkannya.

Di dalam mimpiku, Noboru Wataya berpidato, sambil duduk di balik meja kayu, dengan cat kecoklatan yang mengkilap. Noboru Wataya mengenakan kemeja berwarna merah padam, bermotif garis-garis. Ukuran kemejanya, terlalu lebar untuk tubuhnya yang sekurus kaleng minuman bersoda. Ujung lengan kemejanya digulung hingga pergelangan tangannya. Kelihatannya, itu bagian dari pertunjukannya untuk mendukung gerak-gerik tangannya, setiap kali menegaskan kata ‘motivasi’. Di leher bajunya, Noboru Wataya melilitkan sebuah dasi kupu-kupu berwarna putih. Di tengah-tengah simpulnya, digantungkan bros kecil berbentuk bintang kepahlawanan, berbalut kilatan emas. Ah, aku baru tahu, ternyata ada seseorang yang bisa menemukan cara meletakkan bros di sana. Tapi, lihatlah tampilannya, Noboru Wataya terlihat seperti orang tua menyebalkan, yang mirip, seperti orang tua, yang sudah terlalu lama tua, untuk menanyakan, “Apa sumbangsih milenial bagi bangsa ini?”

Ketika Noboru Wataya selesai berpidato, gorden mi yang membentang di belakang Noboru Wataya terbakar. Tidak ada yang tahu, dari mana api itu menyulut, dan mengapa gorden itu terbuat dari bahan tepung. Lagi pula, ini hanya mimpi. Aku juga tidak ingin repot-repot paham.

Saat jilatan api semakin melalap, orang-orang akhirnya berteriak, “Jangan biarkan apinya mengamuk … Gulung gordennya sebelum mengembang… Tolong para hadirin tetap di tempat.” Tapi, aku memutuskan untuk melarikan diri dari ruangan itu. Terbakar hidup-hidup di dalam mimpimu sendiri akan menjadi mimpi buruk yang paling konyol, bukan? Namun, sebelum aku meningkat dari kursiku, seorang perempuan yang sangat aku kenali, menumbukku dari belakang. Bau bunga melati dari pakaiannya seperti daun teh melati yang merebak dari sebuah kemasan botol plastik. Dan, baunya, seperti memiliki telapak kaki yang menendang hidungku. Hal itu, membuatku terjaga.

Begitulah kemudian, aku akhirnya membuka mataku, dan merasakan kepalaku yang berat sekali. Dari luar rumah, aku mendengar bunyi langkah sepatu. Lalu lekas ditindih oleh bunyi mesin motor matik, dan perlahan menjauh. Aku ingat sekarang. Aku bermalam di rumah Pacarku. Bau bunga melati yang membangunkanku, adalah bau parfum badan kesukaannya. Pacarku, ada kuliah pagi. Meskipun sebenarnya, dia hanya pergi ke warung kopi milik pamannya. Pandemi sialan ini, belum juga berakhir, dan jam kuliah malah semakin mahal, dan merepotkan.

Aku menatap sudut atap yang dibocori oleh sinar matahari. Sinar itu, menyorot tepat di sebelah kananku, dan menjadi satu-satunya sumber cahaya di dalam kamar ini. Pacarku, entah dengan kekuatan apa, masih sempat-sempatnya mematikan lampu, sebelum berangkat kuliah. Jika aku tidak menyibak gorden abu-abu di jendela, kamar ini akan terasa seperti dasar sumur tua yang dalam. Tapi, aku malas sekali, dan kepalaku seperti sedang diduduki seekor gajah Bangladesh.

Namun, lama-kelamaan, aku tidak tahan juga. Kamar pacarku jadi sangat pengap, padahal tadi malam, rasanya sejuk seperti terbenam ke dalam agar-agar. Tubuhku yang telanjang, berlumuran keringat. Aku berusaha, meski itu hanya sekadar mengangkat kepalaku, keahlian yang sebenarnya tidak perlu diusahakan, aku saja yang memang malas sekali.

Aku mencoba mengatur napas. Terciumlah bau mulutku yang sama sekali tidak menyenangkan, dan jantungku terasa seperti denyut kota di hari senin. Sedangkan, tenggorokanku, sekering pipa air di bawah gedung yang terbengkalai. Aku menghela napas panjang, sekali lagi, sebelum menyibak gorden jendela, dan membukanya sedikit. Sinar matahari yang begitu saja menerobos jendela, lantas mengiris mataku. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi, tubuhku bisa merasakan: sinar matahari telah menyerbu dan memenuhi sudut-sudut ruangan di dalam kamar pacarku.

Setelah berhasil menguasai kembali fungsi mataku. Aku bisa melihat lagi. Terlihatlah dinding kamar pacarku yang dilekatkan cat biru. Di samping jendela, ada empat buah bingkai foto yang menggantung, selang-seling. Salah satu foto, menampilkan diriku sedang mengenakan seragam Maritim, posisi topiku agak miring satu derajat ke kanan. Terlihat juga sebuah kasur dengan seprei bermotif wajah kucing yang kusut dan kusam, setengahnya, tertutupi selimut berwarna biru yang tertumpuk seperti gunung berapi yang hendak meledak. Dan, dua buah guling terjatuh ke kolong ranjang seperti korban gempa. Ada robekan tisu yang berserakan di antara pakaian dalam. Sebuah asbak plastik berwarna hijau yang kelimpahan potongan puntung rokok, dan serpihan-serpihan debunya berserakan di lantai.

Di tempat yang sama, bungkusan kacang, biskuit, dan minuman bersoda saling berhadap-hadapan. Buku-buku filsafatnya, masih berada di atas lemari belajarnya, satu-satunya sudut yang masih terlihat agak rapi. Novel-novel Haruki Murakami masih terbuka dan tengkurap di lantai. Dan, sebuah laptop menayangkan film Norwegian Wood.

Kamar pacarku, selalu menjadi kamar paling berantakan di dunia, setiap kali aku singgah bermalam. Biasanya, pacarku yang akan membersihkan kamarnya sendiri, dan aku, ke dapur menyiapkan sarapan. Tapi, karena pagi ini, dia harus kuliah, dan aku sama sekali tidak tahu cara merapikan kamar paling berantakan di dunia. Jadi aku menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri.

***

Kini, setelah mencuci muka, aku berdiri di depan kompor, mengenakan handuk milik pacarku. Aku meraih talenan papan yang menggantung di dinding, dan mengambil sebuah wajan gosong di dalam lemari kayu empat pintu yang berjejer di atas kepalaku. Mengetahui posisi wajan itu tetap di tempatnya, setelah kupindahkan berkali-kali, aku menjadi sinis. Mengapa pacarku tidak menyimpan telenan di dalam lemari, dan membiarkan wajan menggantung di dinding? Bukankah lebih baik membiarkan sesuatu yang besar berada di luar, dan membiarkan yang kecil tersimpan di dalam? Seperti halnya orang-orang bijak memperlakukan masalah hidup, Tapi, entahlah, Pacarku memang pacarku, dan dapurnya adalah dapurnya. Dan aku, hanya singgah untuk bercinta.

Dari sebuah toples plastik, aku lalu memilih tiga siung bawang merah, dan dua siung bawang putih, yang masih cukup segar untuk membuatku menjadi cengeng. Sekuat apapun kita mencoba, di hadapan irisan bawang, kita tetap meneteskan air mata. Dan, itu membuatku berpikir “Mengapa, yah? Kita tidak bisa sejujur ini saat sedang menghadapi pedih hati?” Lalu, Dari dalam kulkas, aku juga mengeluarkan daun sawi, tiga buah tomat, dua biji telur, dan dua bungkus mi goreng kemasan jumbo.

Sebelum memasak, aku menyetel Come and Get Your Love dari Redbone pada sebuah kanal YouTube anonim, di laptop pacarku, dan menyambungkannya ke speaker boombox, lalu membiarkan suaranya menggema. Lagu pertama selesai, berlanjut dengan  Can You Feel the Love dari Elthon Jhon, dan Why Do You Love Me dari Koes Plus. Musiknya lumayan cocok untuk meregangkan badan, dan mulai memasak mi.

Aku punya prinsip, setiap kali memasak mi. Dan, mengabarkan prinsip itu ke telinga pacarku, (semoga saja, tidak keluar lewat telinganya yang lain). Bahwa untuk memasak mi terenak di dunia, kamu tidak perlu mengikuti tata cara memasak mi, seperti yang tertera di belakang kemasan. Kamu hanya perlu memasak mi dengan caramu sendiri. Mau enak atau tidak enak, tidak perlu diperhitungkan. Setidaknya, kamu tidak membiarkan perusahan mi mendikte caramu menikmati makananmu sendiri.

Pacarku senang sekali menyantap sajian Mi Goreng Becek Bawang Gosong, buatanku. Tipe sajian mi goreng yang menyisakan sedikit air dengan taburan bawang gosong. Dan, setiap kali aku memasak untuknya, dia akan memelukku dari belakang. Aku selalu bilang, “Pelukanmu, membuatku kerepotan.” Tapi, dia punya jawaban. “Kapan lagi aku bisa memeluk seseorang yang memasak mi untuk pacarnya.” Dia baru mau melepas pelukannya, ketika beberapa irisan bawang mulai berjatuhan ke permukaan wajan. Alasannya awam sekali: ia tidak ingin terkena percikan minyak panas.

Aku menekuk jari telunjuk dan jari tengahku, dan kuku-kuku-nya bertugas menahan bawang yang sudah terkuliti, ketika tangan yang lainnya bertugas mengiris. Ibuku yang mengajarkannya. Menurut Ibuku, dengan posisi tangan seperti itu, tanganku akan terhindar dari luka yang disebabkan oleh pisauku sendiri, dan hasil dari irisan bawangnya akan terlihat rapi. Aku menerapkan hal yang sama, ke dalam hidupku. Aku pikir, kehidupan seperti tata cara memotong bawang. Hidup, memiliki cara kerja tertentu yang perlu proses paham, agar kita kita tidak melukai diri sendiri.

Aku lantas mengingat isi pidato Noboru Wataya di dalam mimpiku. Seingatku, isi pidatonya terdengar seperti ini:

“Begini, segala sesuatu bersifat rumit sekaligus sangat sederhana. Itulah aturan dasar yang menguasai dunia ini … Itu tidak boleh dilupakan. Hal-hal yang tampak rumit, motivasinya sangat sederhana. Apa yang diinginkannya? Itu saja. Motivasi itu dapat disebut akar hasrat. Yang penting menelusuri akar itu. Menggali lahan rumit yang disebut kenyataan. Menggali terus. Menggali terus-menerus sedalam-dalamnya sampai mencapai bagian paling ujung akar itu. Dengan begitu, segalanya diperjelas akhirnya. Itulah keadaan dunia. Orang-orang bodoh tak kan terbebas dari kerumitan atas pengamatan luar saja.

Dan selama tetap tidak bisa mengerti apa pun, mereka mencari pintu keluar ke sana kemari di tengah kegelapan hingga akhirnya mati. Ibarat bengong saja tak tahu harus bagaimana di tengah rimba raya atau di dasar sumur dalam. Mereka bengong karena mereka tidak mengerti aturan dasar berbagai hal. Otak mereka hanya sekedar berisi sampah atau batu tak berguna. Mereka tidak tahu apa-apa … Karena itu mereka tak kan bisa meloloskan diri dari kegelapan itu.”

Isi pidato yang sebenarnya agak congkak. Tapi, aku setuju dengan Noboru Wataya. Aku tidak pernah mengingat, bahkan sekuat apapun ingatanku, bahwa aku pernah memilih untuk dilahirkan. Sesuatulah yang menginginkanku hidup, aku tidak pernah memilih. Dan, begitu aku hidup, sudah terbentang banyak jalan untuk kaki-kakiku. Jalan yang baik, menjadi pilihan utama. Mereka yang gagal memilih jalan baik, akan terjerumus ke dalam hidup yang tidak berguna. Dan, manusia yang tidak berguna seringkali terjerembab ke dalam rimba raya kegelapan, dan sulit sekali beranjak ke arah jalan yang baik. Karena, seperti kata Noboru Wataya, mereka tidak mengerti, mengapa hidup ini, membentangkan dua jalan: jalan baik dan jalan yang membuat seseorang menjadi tidak berguna. Dan, lihatlah, jika seseorang berpikir seperti Noboru Wataya, dia terancam menjadi motivator membosankan yang terlalu banyak bicara. Jadi, lupakan saja, persetujuanku. Aku tidak ingin, jadi motivator.

Memikirkan pidato Noboru Wataya, membuat irisan bawangku terlihat berantakan. Semalaman pacarku membacakan bagian pidato Noboru Wataya dalam novel The Wind-up Bird Chronicle-nya Haruki Murakami. Dan, mungkin karena itu, aku sampai membawanya ke dalam mimpi. Pacarku menganggap Noboru Wataya sebagai cerminan dari narsisme manusia, yang berusaha menampilkan versi terbaiknya untuk mengubur keburukannya di masa lalu. Semakin sering versi terbaik itu ditampilkan, akan semakin terbuka ingatan tentang tampilan buruknya di masa lalu. Tapi, bagiku, Noboru Wataya hanya seorang politisi yang maniak perhatian publik. Wajar saja, jika Noburu Wataya, dan orang-orang yang mirip Noboru Wataya melumuri dirinya dengan narsisme.

Setelah merapikan irisanku ke bawang putih yang terakhir dan memastikan semuanya terpotong menjadi bentuk dadu, aku lalu mengumpulkannya ke piring kaca. Aku lalu mengangkat wajan ke atas kompor, lalu menuangkan minyak goreng. Dan, aku hampir lupa memotong daun sawi. Karena, teringat sebelum menyesalinya, aku memastikan memotong daun sawi sesuai kebutuhan. Dan mencucinya sebersih mungkin.

Setelah menyulutkan api, HP-ku berbunyi. Aku sempat malas untuk mencarinya. Tapi, aku merasa, harus mengangkatnya. Karena nomor HP-ku hanya diketahui oleh dua orang penting: pacar dan Ibuku. Mereka harus mengetahui nomor HP-ku, sebab, pacarku adalah tong kosong, dan Ibuku, bunyi kata-kata yang nyaring. Maka aku harus mengangkatnya. Aku mendapati HP-ku berada di dalam kamar paling berantakan di dunia, dan yang menelepon adalah pacarku. Di sudut atas layar HP-ku menunjukkan pukul 11.30.

“Baru bangun?” Katanya.

“Sudah lama,”

“Sedang apa?”

“Masak.”

“Mi becek?” Nada bicaranya lalu berubah antusias.

“Ya, kesukaanmu.”

“Wah, aku jadi kangen.”

“Mi-nya atau aku?”

“Saat ini cuman mi. Tidak tahu nanti.”

“Hmmm…”

“Aku mau pulang. Kuliahnya membosankan.”

“Pulang, lah.”

“Tapi, Ibu dosennya, killer. Nanti saja, yah. Bakal merepotkan kalau harus berhadapan dengan penyihir tua.”

“Oke.”

“Sisakan sedikit, bisa?”

“Mau makan mi dingin?”

“Yaaaaahhh.” Nada ucapannya jadi ketus.

“Baiklah, nanti aku buatkan lagi.”

“Aku sayang kamu.”

“Sayang juga, pangkat dua.”

Lalu, Pacarku menutup panggilannya. Aku memandang HP-ku selama beberapa saat, aku sepertinya melupakan sesuatu. Aku lalu membuang HP-ku ke atas Kasur, di dalam kamar paling berantakan di dunia. Wah, aku teringat, aku sudah menyalakan api kompornya. Minyaknya pasti sudah habis.

Benar, minyaknya terkuras, dan wajannya mengepulkan asap. Padahal tadi, aku hanya meningalkannya sebentar, tapi apinya memang terlalu kebesaran. Aku lalu menuangkan minyak yang baru, (maafkan aku untuk minyak yang lama). Aku akan memastikan tidak ada lagi yang membuatku meninggalkan kompor saat apinya sudah menyala. Kalau Ibuku melihatnya, Ibuku pasti akan memarahiku.

Setelah minyaknya mendidih, aku menaburkan irisan bawangnya ke wajan yang sudah dibaluri api. Hal yang paling menyenangkan, bagiku, ketika menumis bawang, adalah kuar aromanya. Sungguh, aromanya, khayalan surgawi. Aku akan selalu berterima kasih kepada Jie Sixie, penulis kitab Qimin Youshu yang telah menemukan cara menumis bawang. Di manapun Anda berada sekarang, Anda adalah penulis terhebat yang pernah ada.

Setelah gerombolan bawang itu terlihat mulai kecoklatan, aku lalu memasukkan mi ke wajan dengan elegan, untuk menghormati Momofuku Ando yang menemukan mi instan dan menjadi konsumsi orang-orang lapar di masa Perang Dunia II. Meskipun hanya skala Jepang, yang ironisnya, menjajah Indonesia, tapi, aku berpikir, di luar persoalan geopolitik itu. Nyatanya, mi adalah penemuan terbaik abad 20, satu tingkat di atas penemuan paling menyenangkan lainnya: permainan konsol dan Pokemon.

Untuk menyiasati agar irisan-irisan bawangnya tidak gosong –meskipun akhirnya memang harus digosongkan, karena nama masakannya sendiri adalah Mi Goreng Becek Bawang Gosong –aku menurunkan suhu kompor, selagi menuangkan bumbu paten mi goreng. Begitu memastikan tidak ada lagi bumbu-bumbu yang tertinggal di dalam kemasannya. Aku menaikkan suhu kompor, dan menuangkan segelas air. Lalu menunggunya mendidih.

Setelah air di atas wajan meletup-letup, dan memastikan mi sudah terasa lemas. Aku memasukkan daun-daun sawi, lalu memastikannya layu dengan spatula. Lantas, aku mendahulukan giliran irisan tomat untuk masuk ke dalam wajan. Dan juga memastikannya, layu. Aku lalu menambahkan kecap manis, kecap asin dan sedikit saus tomat. Dan karena aku tidak terlalu suka berkeringat saat menyantap makananku, maka aku tidak menambahkan irisan cabai. Jika saja pacarku ikutan makan, maka terpaksa aku menuangkan lima biji cabai, karena ia suka sekali direpotkan oleh keringatnya sendiri ketika makan. Aku mengaduk bahan-bahan tambahannya hingga merata, lalu memecahkan dua biji telur, dan menuangkannya, sebagai langkah pamungkas sebelum mi berakhir ke dalam mangkuk.

Setelah memastikan, rasa mi sudah moderat dan tidak akan melukai tenggorokanku. Aku lalu mematikan kompor, dan menuangkan mi ke dalam mangkuk. Selama menunggunya agak dingin dan cocok dikunyah, HP-ku berbunyi lagi. Pacarku lagi.

“Sudah masak?” Ia bertanya.

“Sudah,” kataku.

“Porsi?”

“Satu orang.”

“Buat aku, yah? Aku lapar sekali. Aku pulang, sekarang.”

“Kuliahnya?”

“Selesai, Dosennya ngambek untuk sejuta kalinya.”

“Oh. Kalau begitu, Mi-nya kutingal di atas meja, yah. Aku mau mandi.”

“Kalau aku tiba, dan kamu masih ada di kamar mandi, aku boleh ikutan mandi?”

“Kalau begitu, pintunya tidak bakal aku kunci.”

“Kamar mandi atau rumahnya?”

“Kamar mandinya. Kan, kunci rumahnya, kamu yang bawa.”

“Eh, iya yah. Butuh dibebaskan?”

“Mau makan mi atau jadi pahlawan?”

“Mauuu makan miiiii.”

“Ya sudah. Jangan biarkan mi-nya jadi mi dingin. Rasanya akan seperti makan aspal shubuh-shubuh.”

“Oke, aku pulang sekarang. Dah.”

“Dah.”

***

Begitu aku mengamankan mi ke bawah tudung saji, aku ke kamar mandi, dan menutup pintu, tanpa menguncinya. Melihat diriku yang telanjang di kamar mandi membuatku membatinkan kata-kata Noboru Wataya:

“Hidup? Benarkah? Atau itu, cuman kiasan. Sedangkan kita, sibuk melarikan diri dari kematian?” []

Facebook Comments
No more articles