Jika seseorang bertanya kepada Mapata, apa hal terburuk yang pernah terjadi padamu? Saya yakin Mapata akan menjawab: dikhianati!

Mapata merupakan tokoh di dalam novel Tiba Sebelum Berangkat karya Faisal Oddang. Novel yang terbit tahun 2018 tersebut mengambil latar perihal komunitas bissu dan pergolakannya dengan DI/TI atau gurilla (Geriliya) di masa lalu. Cerita ini kemudian dihubungkan dengan narasi intoleransi berkeyakinan yang digerakkan oleh organisasi masyarakat (ormas). Dua narasi besar tersebut berkisah tentang kehidupan sosial masyarakat Bugis yang kemudian dijahit menjadi satu cerita yang saling terhubung satu sama lain. Baik kisah di masa lalu, maupun peristiwa yang sekarang (di dalam cerita) memiliki pengaruh yang kuat di dalam menggerakkan cerita hingga akhir.

Mapata, sebagai tokoh utama di dalamnya mengambil peran penting dalam penentuan alur cerita. Kehidupannya di masa kecil, di masa muda, hingga di masa saat cerita itu diceritakan, semua direkam baik melalui novel ini. Sejatinya, dari buku ini, kita paham Mapata bukanlah seorang lelaki beruntung. Hidupnya penuh dengan pergolakan dan penderitaan. Bagaimana tidak, sejak kecil, ia sudah dirundung berbagai masalah. Mulai dari pertengkaran kedua orang tuanya, kematian ayahnya, hingga ia dicabuli oleh ayah tirinya.

Di masa mudanya, Mapata menjalani kehidupan sebagai pelayan bissu atau toboto. Sebuah profesi yang sejatihnya tidak benar-benar ia inginkan, tetapi menjadi pilihan terbaik di dalam hidupnya saat itu. Sekian lama ini menjadi pelayan dan abdi bissu yang saat itu ketua bissu dipegang oleh Puang Rusmin, akhirnya Mapata memutuskan sebuah “pemberontakan”. Ia melarikan diri bersama Batari. Ia juga mencuri berbagai macam perhiasan Puang Rusmin sebagai bekalnya di dalam pelarian.

Siapa Batari? Batari adalah kemanakan dari Puang Rusmin. Batari adalah seorang perempuan yang cantik dan tentu saja pemberani. Batarilah yang membujuk Mapata untuk melakukan pelarian dengannya: meninggalkan Puang Rusmin dengan segala kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya sebagai seorang bissu.

Baca juga: Dari Puisi-puisi M Aan Mansyur, Kita Menemukan Cara Mengakui Diri

Kisah mereka sebenarnya adalah kisah yang kompleks. Pertemuan pertama mereka di masa lalu sebagai seorang anak kecil yang masih berseragam putih merah menjadi semacam pintu masuk bagi mereka untuk saling mengenal. Kisah di masa kecil itu menjadi pintu ajaib untuk mendekatkan mereka setelah puluhan tahun tidak saling mengenal. Di rumah bissu Puang Rusmin, mereka menjalin kisah. Batari mencintai Mapata dan Mapata tidak mampu menepis perasaan itu.

Semenjak saling mengenal, Batari sering mencuri curi kesempatan untuk bertemu dengan Mapata. Saat itu, ia punya misi sederhana, ia ingin membuat kembali normal diri Mapata. Tetapi, apa daya bahwa kehidupan Mapata sebagai lelaki normal, sepertinya tidak benar-benar bisa terwujud. Kemaluannya tidak pernah benar-benar ngaceng. Hanya saja cinta mereka sepertinya kuat seperti maut, mereka kemudian memutuskan untuk bersama dan melakukan pelarian yang jauh dari kampung tempat Puang Rusmin mengabdi sebagai seorang Bissu.

Lantas bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Hal inilah yang menjadi tanda tanya besar, keputusan Batari untuk menikah bersama Mapata adalah sebuah keputusan besar. Bagaimana tidak, Mapata bukanlah lelaki normal tetapi Batari mampu bertahan hingga akhirnya mereka memiliki seorang anak, meskipun itu tentu saja bukan darah daging Mapata. Mereka besama atas nama cinta, bukan karena kebutuhan seksualitas. Mapata melalui usaha salonnya sering  bergumul dengan lelaki, sedangkan Batari juga membawa lelaki lain untuk kebutuhan batinnya.

Saya membayangkan bahwa inilah sesungguhnya cinta, kebersamaan mereka bukan atas nama kebutuhan seksualitas semata, tetapi lebih kepada kebutuhan akan teman hidup.

Baca juga: The Catcher in the Rye dalam Diri J.D Salinger

Di masa penangkapan karena dituduh telah mencemarkan agama, Mapata mendapatkan siksaan yang mungkin tidak akan sanggup ditahan oleh manusia lemah. Mapata disekap di sebuah ruang yang berbentuk kamar dengan sebuah pintu dan satu lubang kecil. Mapata dipaksa untuk menjelaskan tentang semua buku catatan yang ditemukan oleh ketua penculik, Ali Baba. Hari demi hari, Mapata mendapatkan siksaan. Ia dipukul, ditendang, lidahnya dipotong, bahkan kemaluannya ditindih menggunakan kaki meja. Tetapi, apa yang membuat Mapata tetap bertahan hidup, ia mencintai Batari dan selalu merindukan anaknya, Walida.

Tetapi hidup memang selalu tidak dapat kita tebak. Setelah menjalani kehidupan yang sulit, ia akhirnya harus menerima kenyataan bahwa Batari mengkhianatinya. Hal yang paling menyedihkan dari pengkhianatan tersebut bahwa dirinya rela menanggung segala macam kepedihan dan penderitaan demi seorang perempuan yang ternyata telah mengkhianatinya. Saat Mapata telah dibebaskan, ternyata Batari telah menikah dengan Sumiharjo, seorang lelaki yang menjadi kaki tangan penculikan Mapata. Bahkan, saat pertemuannya dengan Mapata, Batari mengaku telah megandung anak dari Sumiharjo.

Lantas apa yang menyebabkan Batari mengkhianati Mapata?

Pertanyaan itu mungkin menimbulkan banyak jawaban. Batari punya alasan sederhana, katanya: semua sudah berubah, ia mencintai Sumiharjo. Tetapi, yang tidak bisa dijawab dengan baik oleh Batari adalah mengapa ia memilih menkhianati Mapata dan memilih bersama Sumiharjo?

Maka dari, saya akan mencoba untuk menerka alasan Batari mengkhianati Mapata dengan menggunakan sudut pandang psikoanalisis sebagaimana tafsir Zlavoj Žižek terhadap pemikiran psikologis Jaquens Lacan.

Baca juga: Ketika Tuhan Membela Pengkhianat

Lacan menyebutkan bahwa stidaknya adalah tiga fase di dalam kehidupan menusia yaitu, fase cermin, simbolik dan Yang Nyata. Fase cermin adalah fase di mana anak-anak mulai mengidentifikasi dirinya sendiri dengan melihat adanya orang lain. Selanjutnya, anak-anak kemudian masuk pada tahap simbolik, di mana segala aktivitas dan egonya dibentuk oleh tatanan simbolik (wacana dan atau ideologi). Kemudian fase Nyata (the real) adalah fase yang tidak terjamah oleh simbol-simbol atau yang tak terbahasakan. Tetapi, selalu dirindukan manusia untuk memilikinya (misalnya kesuksesan, kebahagiaan, dll). Manusia selalu merasa kekurangan sehingga selalu ingin bertemu dan selalu ingin memenuhi kekurangannya. Fase itu kemudian disebut sebagai fase the real.

Pada tahap itulah, Zizek menafsirkan bahwa manusia yang sebenarnya manusia (subjek) adalah manusia yang tidak terjebak pada tatanan simbolik, tetapi ia selalu bergerak ke arah Yang Nyata (the real). Tindakan tersebut juga tidak dilakukan berdasarkan perencanaan, tetapi merupakan tindakan yang tak terduga. Hal inilah yang kemudian banyak pemikir menganggap tafsir Zizek atas Lacan merupakan sebuah pemikiran tentang subjek radikal. Tafsir tersebut membuat Zizek dijuluki sebagai filsuf paling berbahaya di abad ini.

Di dalam novel Tiba Sebelum Berangkat, saya menemukan tindakan-tindakan Batari sebagai seorang yang sebenar-benarnya subjek sebagaimana yang dipikirkan Zizek. Setidaknya, ada tiga tindakan radikal Batari yang kemudian sesuai dengan pemikiran Zizek tentang subjek radikal.

Baca juga: Memang Mematikan, Tapi Juga Menghidupi Kecemasan

Pertama, saat Batari mendekati Mapata yang jelas-jelas telah menjadi seorang toboto. Tatanan simbolik, atau sebutlah apa yang dipahami orang-orang secara umum, atau adat dan tatanan yang berlaku, menyatakan bahwa toboto jelas tidak lagi bisa menjadi lelaki normal. Alasannya ia telah dipilih dewata untuk menjadi pelayan bissu.

Batari juga tahu mengenai hal itu setelah berkali-kali mencoba untuk bercinta dengan Mapata, tetapi tak pernah berhasil. Tetapi apa yang kemudian dilakukan oleh Batari, ia tetap mencintai Mapata, bahkan berhasil membujuknya lari dan mencuri sebagian harta Puang Rusmin. Batari memperlihatkan sebuah tindakan subjek radikal, yang keluar dari tatanan simbolik yang dianut oleh orang-orang secara umum.

Kedua, Batari mampu bertahan dan menerima keadaan bahwa suaminya, Mapata adalah seorang lelaki yang tidak bisa memenuhi kebutuhan seksualnya. Di dalam kehidupan sehari-sehari, Batari menerima keadaan bahwa suaminya sering bercumbu dengan lelaki lain. Demikian pula dirinya, ia sering membawa lelaki lain ke rumah mereka. Tatanan simbolik (paham yang berlaku di masyarakat) tentu tidak menerima hal seperti itu.

Kebudayaan dan kehidupan masyarakat Bugis sangat mengutamakan harkat dan martabat seorang perempuan. Tetapi, sekali lagi, Batari mendobrak tatanan simbolik itu berupa tindakan radikal yang dalam perspektif Žižek merupakan tindakan untuk menjadi seorang subjek, meskipun pada akhirnya akan kembali terjebak pada tatanan simbolik yang lain.

Baca juga: Kamu Ditipu, Radikal hanya Korban, terus Siapa Pelakunya?

Tindakan yang paling radikal adalah tindakan yang terakhir ini. Bagaimana tidak, Batari sanggup mengkhianati Mapata dengan menikah dengan lelaki lain. Coba banyangkan, sudah berapa banyak pengorbanan yang mereka lakukan untuk bersama. Mereka mengkhianati Puang Rusmin yang telah menghidupinya. Mereka kabur dan mencuri harta Puang Rusmin.

Mereka hidup sebagai suami istri tanpa berhubungan badan sebagai suami istri. Mereka merawat dan membesarkan seorang anak perempuan yang bukan darah daging Mapata. Kemudian, yang paling menyedihkan bahwa Mapata mampu bertahan hidup di dalam penyekapan demi Batari yang pada akhirnya mengkhianatinya.

Sebelum saya sampai pada lembar terakhir novel Tiba Sebelum Berangkat, saya sebagai pembaca tidak pernah menduga bahwa Batari kemudian mengkhianati Mapata. Penderitaan Mapata di ruang interogasi sungguh adalah penderitaan yang perih, akan tetapi nyatanya masih ada yang lebih perih daripada itu semua: dikhianati!

Batari sekali menjadi seorang subjek radikal. Saat beberapa tahun tenggelam dalam tatanan simbolik yang ia ciptakan sendiri (hidup bersama Mapata), ia kemudian mendobrak tatanan itu sendiri dengan mengkhianati Mapata.[]

BACA Juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles