Sekarang September dan kita berada pada situasi yang benar-benar belum bebas. Masih diliputi separuh kebenaran antara hidup ruang maya atau sebaliknya. Sementara separuh kebenaran lainnya adalah perihal mencintai atau melupakan. Katakanlah, mampukah kita melanjutkan kisah cinta duniawi yang rumit ini melalui lintasan-lintasan tak kasat mata menghubungkan kita ke situasi duka-lara, rindu, dan emosi-emosi berahi kita?

Demikianlah salah satu nasib buruk yang entah sadar atau tidak, tengah kita nikmati. Di Parangtambung—salah satu wilayah terpinggir Universitas Negeri Makassar—saya kembali membuka halaman-halaman buku Menunggu Rakyat Bunuh Diri sebuah antologi esai karya Aslan Abidin. Sayangnya, memoar itu benar-benar bekerja atas diri saya dan saya yakin, pun untuk sebagian besar pembaca lain. Buku ini sungguh bersikeras mendikte nasib buruk-nasib buruk lainnya yang kita alami di sebuah kota yang kita klaim sebagai Kota Metropolitan dari Timur Indonesia ini.

Siapa di antara kita yang doyan membuat kebisingan, tawuran, menutup atau menguasai jalan umum? Siapa di antara kita yang sekarang gemar memajang janji palsu di setiap sudut-sudut kota? Siapa di antara kita yang buta membedakan mana siriʼ, mana pesseʼ? Hemat saya, Menunggu Rakyat Bunuh Diri menyesatkan tetapi seperti sebuah kebutuhan. Artinya, setelah Anda benar-benar sadar akan nasib buruk yang terus menghinggapi hidupmu, bunuh diri adalah satu-satunya harapan terakhir yang harus dipikirkan.

Baca Juga: Di Dunia Animal Farm, Sosok Pemimpin Ideal Sepenuhnya Milik Napoleon

Bunuh diri adalah kebutuhan meskipun kadang kita sungkan melakukannya. Leo Tolstoy dalam bukunya A Confession pernah menyesalkan betapa runyamnya hidup, dan yang paling tidak bisa ia lakukan adalah mengakhirinya. Di lain sisi, ketika bunuh diri sudah menjadi kebutuhan, sisanya adalah menunggu “ajakan.”

Di Jepang, pada kisaran 2003-2006, kerap dikejutkan dengan temuan sebuah mobil yang tertutup rapat kaca jendelanya terparkir rapi di pinggiran kota. Biasanya 4 hingga 5 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan tanpa sedikitpun luka benda tajam, tewas di dalam mobil tersebut. Identifikasi kasus kematian tersebut adalah kemasan pil tidur dan pembakar arang. Ini adalah bunuh diri—tren bunuh diri ala Jepang.

Penulis nonfiksi kelahiran Brooklyn, New York, David Samuels, dalam tulisannya yang diterjemahkan oleh Fahri Salam dengan judul “Mari Mati Bareng” menggambarkan bagaimana tren bunuh diri di Jepang tersebut. Lebih lanjut, bunuh diri ini adalah cara mati dengan menghirup gas karbondioksida dari pembakaran arang di ruang tertutup, misalnya adalah di dalam mobil yang sengaja tertutup rapat ruang udaranya.

Baca Juga: Tradisi Mudik Bukan Sekadar Pulang Kampung

Tren bunuh diri tersebut berawal dari situs-situs daring. David menyebutkan salah satu nama situsnya “Ayo mati bareng di Shizuoka.” Orang-orang yang melakukan interaksi di situs tersebut menentukan sendiri kapan waktu yang tepat untuk melakukan bunuh diri. Anehnya, mereka tidak pernah saling mengenal satu sama lain, bersepakat melakukan aksi bunuh diri bersama, mempersiapkan segala kelengkapan dan menunggu jemputan. Sebuah pesan dari seorang calon mayat dalam situs “Ayo mati bareng di Shizuoka” yang ditulis David Samuels menerangkan seperti ini:

“Aku belum punya perlengkapan, tapi pikiranku sudah siap kapan saja. Dulu aku gagal bunuh diri karena kupikir aku harus membuka lembaran baru dan berusaha menjalani hidup lagi. Tapi, bayangan hitam di hatiku masih terus menetap. Aku selalu merasa lelah. Aku pengin tidur, enggak pengin bangun lagi … Aku mencari orang yang mau menemaniku ke sungai kematian bersamaku dengan membakar briket batubara …”

Selepas itu, para calon mayat menuju lokasi yang telah disepakati—biasanya di pinggiran kota, kawasan hutan—menutup rapat kaca dan lubang apapun di mobil yang menjadi jalan keluar masuknya udara, minum pil tidur secukupnya, membakar briket, perlahan-lahan mereka akan tertidur pulas dan demikianlah mereka mati tanpa perlu merasakan rasa sakit sedikitpun.

Saya khawatir, di tengah musim yang menyimpan separuh kebenaran ini—kehidupan yang serta merta harus berjalan daring, menyebabkan krisis ekonomi dan moral—masyarakat di kota Makassar akan mencontoh skenario bunuh diri Jepang tersebut. Tetapi siapa di antara kita yang alih-alih membuat grup di WahtsApp misalnya, katakanlah, “Ayo Mati Bareng di Losari” atau “Ayo Mati Bareng di Kodingareng?” Akan tetapi, bagaimana dengan para pemimpin dan calon pemimpin kita yang tengah asyik berkampanye, tidakkah mereka berniat bunuh diri? Saya punya saran yang sangat cocok untuk mereka tanpa perlu repot-repot dengan briket dan pil tidur. Harakiri─Tancapkanlah badik ke tubuhmu, biar mengoyak seisi perutmu.

Lantas kekhawatiran dan saran saya mungkin akan ditanggapi oleh seseorang yang itu, misalnya, “Ohhhh, tidak seperti itu Once. Orang Bugis-Makassar tidak akan mati dengan cara seperti itu. Kami punya siriʼ.” Yah, manusia Bugis-Makassar akan lebih memilih maté nisantangi, pikirku. Maka dari itu, bersedihlah secukupnya saja.

Baca Juga: Pertemuan Kembali

Lagi pula, Aslan Abidin sepertinya belum serius mengajak rakyat untuk bunuh diri. Para pemimpin kita juga sepertinya tidak akan pernah rela untuk bunuh diri. Lalu kata seseorang yang lain, “Setiap hari selalu ada bunuh diri di sawah dan di laut, juga di pasar, jalan raya dan di hutan. Tetapi tubuh kami tidak mati. Hanya saja kemerdekaan kami hilang. Ah, manusia, seandainya dapat hidup seperti kecoak. Demikianlah, tidak ada lagi yang tersisa dari hidup ini.” Yah, kita semua tengah menunggu ajakan!

Saya percaya, “manusia lahir dan nasib meletakkan banyak jalan berkelok di hadapannya. Jalan apapun yang ia pilih, ia akan sampai pada ujung yang sama. Manusia berjalan ke tujuan akhir yang justru ia takutkan: kematian (Aslan Abidin, 2020, hal.24). Namun, semoga Aslan dan kita semua tetap utuh memiliki lidah untuk membicarakan kapan dan di mana menapaki “jalan bunuh diri”. Kita hanya akan kehilangan hal-hal duniawai saja. Setidaknya, mati dalam keadaan sehat tubuh, lebih menyehatkan tanah, bukan? []

Penulis: Once Luliboli, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNM. Bergiat di Bengkel Sastra, biro kesenian tingkat jurusan.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles