Sebelumnya, saya agak canggung untuk menulis tulisan ini, apalagi untuk tujuan memberikan penghakiman atau membentuk sebuah krinein terhadap beberapa tulisan M Aan Mansyur. Kecanggungan itu kuakui hanya karena ketermasyhuran Aan sebagai sastrawan selebritis kontemporer yang banyak diakui oleh berbagai kalangan, siapa sih yang tak mengenal, Aan Mansyur? Bahkan karya Aan, Tidak Ada New York Hari Ini menjadi sebuah brand tersendiri dalam film Ada Apa Dengan Cinta  2 (2016) yang disutradarai oleh Riri Riza.  Akan tetapi, sebagai penggemar sastra dan filsafat, entah mengapa pikiran saya agak terganggu dan terus berdialektika setelah membaca setiap satu buku M Aan Mansyur?

Sejak tahun 2017, saya mulai membaca karyanya, mulai Melihat Api Bekerja, Tidak Ada New York Hari Ini, dan terakhir Cinta yang Marah.  Itu pun saya membacanya karena banyak anggapan negatif yang berserakan di sekelilingku—terutama di kampusku. Tetapi, sebagai mahasiswa sastra, saya berusaha untuk tidak mengikuti arus kritikan itu sebelum membaca karya-karyanya. Sebab, betapa dungunya diriku apabila melakukan kritik tanpa pernah membaca karya orang lain.

Ketiga karya yang saya baca itu tentu tak langsung begitu saja menghakiminya—apakah baik atau buruk. Tetapi, mendalami beberapa teori sastra merupakan suatu upaya untuk mencari episteme yang bijak dan satu langkah dialektis untuk memahami karya Aan. Apalagi, ketika memandang karya Aan sebagai subjek yang berusaha mensubjektivikasi pembaca. Sebab, menurut hemat saya karya sastra merupakan bagian penting dalam merekam tatanan simbolik dan berusaha mensubjektivikasi realitas. Atau boleh dikata karya Aan adalah penanda utama yang memiliki banyak penanda-penanda lain di dalamnya.

Baca Juga: Di Dunia Animal Farm, Sosok Pemimpin Ideal Sepenuhnya Milik Napoleon

Jacques Lacan melalui Bracher dalam bukunya Lacan, Discourse, and Social Change: A Psychoanalytic Cultural Criticism, memaknai penanda utama sebagai penanda yang diletakkan subjek pada identitasnya, dalam artian penanda inilah yang membentuk subjek. Seperti yang dikatakan lebih lanjut oleh Lacan dalam Le Seminiaire, Livre XVII: Tanskrip diskusi, merekalah yang membuat diskursus menjadi bisa dibaca. Penanda ini menurut Lacan dalam bukunya Ecrits adalah sesuatu yang mewakili suatu subjek bagi penanda lainnya. Kata mewakili di sini bukanlah seperti representasi atau penggambaran subjek itu, tetapi penanda itu adalah bentukan dari penanda-penanda yang lain juga atau disebut Lacan sebagai intersubjektivitas.

Hal inilah yang mengakibatkan  upaya-upaya mengulangi penanda utama berlansung secara terus menerus dalam membentuk sebuah identitas pada subjek dalam menerima diskursus budaya. Namun, penanda-penanda itulah yang membawa subjek untuk memiliki hasrat menuju pada identifikasi sampai pada pembentukan subjek yang terus merasakan kekurangan dalam mencari yang real.

Karya Aan sebagai penanda utama tentu dibentuk oleh penanda-penanda yang lain, yang kemudian membentuk sebuah identitas. Satu puisi Aan dalam Melihat Api Bekerja, yaitu “Pulang ke Dapur Ibu”. Puisi ini berusaha menempatkan subjek “Aku” sebagai subjek yang berada dalam posisi yang kehilangan—lalu melahirkan kegelisahan (anxiety)—dan akan memacu hasrat dalam mencari kehilangan itu. hal ini direpetisi oleh Aan dalam fragmen kalimat “aku ingin pulang ke dapur ibuku…., aku ingin hidup dan diam bersama ibuku…, aku ingin melihat ibuku tetap muda dan mudah tersenyum…”. Meski demikian, kondisi yang riil ini, akan tetap menempatkan subjek yang terjebak dalam kondisi jouissance: kenikmatan yang paradoksal. Sebab karya ini sebenarnya hanya menarik pembaca ke dalam fantasi ideologis dan lebih parah, mengantar pembaca ke dalam hasrat narsistik aktif, yaitu hasrat yang mengantar subjek ke dalam—menuju pada identifikasi terhadap penanda utama.

Baca Juga: Politik Wacana dan Belajar Sinis Kepada Aktivis

Subjek “aku” tidak berhenti di sini. Di antara berserakannya puisi Aan. “Aku” selalu menjadi sentral penanda untuk terus-menerus berusaha menjadi subjek dialektis di antara penanda-penanda lainnya, atau bisa saja dipahami sebagai penanda metonimis yang menjadi penjaring dari penanda-penanda lainnya.  Hal ini sangat mampu ditelaah melalui satu puisi Aan dalam bukunya Tidak Ada New York Hari Ini”, di sajak “Di Halaman Belakang Puisi Ini”, bahwa dalam memahami puisi, Aan menggunakan subjek “Aku” sehingga “Aku biarkan orang-orang berbincang dan bersulang dengan diri sendiri”. Perlu diketahui bahwa puisi-puisi Aan masuk dalam kategori Puisi Kamar—istilah yang pernah berkali-kali diucapkan oleh Aslan Abidin. Sehingga dalam memahami puisi Aan, kita sebenarnya mesti masuk ke pintu kamar yang dibuat olehnya.

Dari situ, kita bebas memaknai dan mengikuti yang sebenarnya inilah Aan maksud sebagai puisi. Meski “Aku mungkin tidak berada di sana—aku sedang duduk menemani diriku di taman kota atau perpustakaan atau terjebak pesta berbeda dalam puisi yang belum dituliskan.”  Dalam fragmen itu, “aku” seolah-olah menghindar untuk menggelincirkan penanda dari subjek, akan tetapi Aan gagal ketika menegaskan di bait terakhir “kau boleh membayangkan dia adalah aku atau siapa pun yang kau inginkan”. Dalam artian, ia sebenarnya merepetisi maksudnya bahwa sebenarnya “aku”lah yang kau bayangkan. Dari situ, kita akan menarik benang merah, bahwa sebuah pengakuan dalam puisi semakin mengental dan mengakibatkan subjek tergelincir ke dalam keakuaan seorang Aan sebagai pegarang.

Tindakan itu tidak jauh berbeda dalam kumpulan puisi Aan pada buku Cinta yang Marah. Ia sebenarnya menjadikan subjek aku dan kau sebagai subjek yang terbelah dari subjek yang terkontraksi. Dari 21 puisi Aan, repetisi “aku dan kau” menegaskan bahwa subjek  sebenarnya mengalami kegagalan dalam keterbelahannya. Dengan kata lain, subjek akan terus berputar pada kepenuhan dan juga kekosongannya. Sebagaimana dalam tafsiran psikoanalisis Žižek dalam bukunya The Ticklish Subject: The Absent Centre of Political Ontology, dorongan ini akan senantiasa gagal, dan senantiasa meleset dari objek yang dituju serta terus-menerus berpusar di sekitar objek tersebut. Hal itulah yang menyebabkan hadirnya kekosongan terus menerus. Dan hal itu pula yang menjadikan puisi-puisi Aan terjebak dalam narsistik aktif, serta tak akan pernah berhasil melakukan tindakan radikal dari puisi-puisi itu.

Baca Juga: Humor Donald Trump dalam Menghadapi Iran

Oleh sebab itu, pertama, beberapa puisi M Aan Mansyur hanya membawa subjek terjebak dalam kondisi jouissance: kenikmatan yang paradoksal, dan, kedua, menjebak subjek ke dalam narsistik aktif yang dibangun oleh pusi-puisi Aan. Jebakan-jebakan itu diakibatkan oleh repetisi pengakuan subjek yang dijadikan sebagai bentuk identifikasi hasrat dalam menarik hasrat yang lain masuk ke dalam tatanan simbolik. Meskipun demikian, karya-karya Aan hanya sebatas fantasi ideologis, yaitu fantasi yang berperan untuk menjebak pembaca mengakui Aan yang berusaha mengisi hasrat subjek (pembaca). Sehingga, menurut hemat saya, kalimat yang tepat buat puisi-puisi M Aan Mansyur ialah: aku mengakui keakuanku di dalam pengakuanku! Dan dari situ, kita belajar cara mengakui diri. []

Penulis: Dwi Rezki Hardianto, Mahasiswa Magister Ilmu Sastra Universitas Gadja Mada.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles