Setengah dekade lalu saya pernah diolok habis-habisan, alasannya saya membenci yang ia suka, Korea dan sekutunya.

Mukanya miring seperti topi, jidatnya bergaris tapi masih tetap cantik, merah pada pipinya menatap. Tanpa peduli reaksi itu, satu-satunya hal yang saya suka dari Korea Selatan (Korsel) adalah sepakbola, kataku. Ia terbantu dari nama-nama aktor lapangan seperti Lee Young Pyo, Park Ji Sung, atau Ahn Jung Hwan, membuat saya perlahan mengenal sedikit banyak dari negara yang membenci Jepang itu. Terlepas memang tiga nama itu bermain jauh diluar negaranya, Inggris dan Italia yang kita tahu salah dua panggung besar bagi sepakbola dunia. Karena mereka, saya jadi tertarik mengenal negara yang sangat ingin ia kunjungi itu.

Tapi apa pentingnya ketertarikan ini? Lama kelamaan saya jadi mulai memikirkan untuk cepat-cepat menyesali kesalahan yang sudah larut bersama waktu. Tapi ingatan ini, bermutasi jadi semacam sesal. Mungkin—salah satu caranya dengan memaafkan diri, lebih menerima laki-laki tanpa kumis dengan wajah-wajah putih, musik changga, rambut two block, drama-romansa yang tuntas, plastik jutaan dolar, atau semua yang dipahami sebagai budaya populer tempo waktu.

Bagian terbijak dari diri saya berbicara dengan suara yang jauh, cobalah untuk tidak membenci karena tak tahu, hasilnya bisa jadi tak kenal maka tak suka.  

Baca juga: Memang Mematikan, Tapi Juga Menghidupi Kecemasan

Karena baru pertama kali mendengar nama-nama itu, dia makin tak karuan tapi sekali lagi ia tetap cantik. Dia tidak dapat menimpali apapun, saya tentu paham alasannya. Walau sama-sama tentang Korea—sepakbola baginya adalah hutan yang ditumbuhi beragam belukar, dengan sungai kecil deras, bukit terjal berbatu, dan puncak yang indah tanpa filter insta-story. Dia hanya belum pernah melihat dunia dari puncak gunung, meski berkali-kali saya melukis pemandangan dan sepasang tangan yang saling genggam berdiri di atas awan dalam pikirannya. “Sepakbola bukan budaya Korea, orang-orang sepertimu bisa menemukan permainan semacam itu di hampir semua negara”. Kedua bibirnya masih belum berhenti.

Mark Ravina dalam jurnal yang terbit di Southeast Review of Asian Studies bertajuk Introduction: Conceptualizing the Korean Wave (2009) menerangkan apa yang lalu dikenal dalam Korean Culture atau pop culture sebagai Hallyu atau Korean Wave (Gelombang Korea), semacam istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia sejak tahun 1990-an. Terkecuali sepakbola, Hallyu memicu banyak orang-orang di seluruh dunia mempelajari bahasa Korea dan kebudayaan Korea. Dalam hal itu yang dari selatan.

Kami melanjutkan rekaan ini. Sebelum mulai berbicara, matanya sudah lebih dulu membawa saya ke tahun-tahun 1980-an. Di masa-masa itu, Korsel masih menjadi negara berkembang yang kekurangan pipa ledeng dan listrik yang seringkali padam. Kisah itu tampak wajar jika mengingat apa yang terjadi di sana tiga sampai empat dekade sebelumnya. Pada 1950-an, rakyat Korsel harus menanggung derita setelah perang dengan tetangganya di utara, menyebabkan negara itu jadi salah satu yang termiskin di benua kuning.

Baca juga: Kawan Dekat yang Tinggal di Tempat Jauh

Mereka, orang-orang selatan hanya bisa membayangkan hal-hal imajiner, punya pasokan pangan cukup, kota dan hunian yang aman, dan air yang terus mengalir. Tapi mereka beruntung atas satu keyakinan. Mereka punya sesuatu yang membuat mereka tetap bertahan sebagai entitas politik terpisah dengan yang ada di utara. Namun sampai pada tahun 1970-an, mereka masih tidak punya apa-apa selain utang yang harus dilunasi generasi pelanjut.

Euny Hong, penulis sekaligus jurnalis Korea-Amerika yang sejak 1980-an tinggal di Seoul mengatakan hal yang kurang lebih sama. Dalam artikel panjangnya How South Korea Became a Capital of Pop Culture menulis, seseorang akan menertawakan siapapun yang mengatakan kelak, Korsel akan memproduksi musik seperti The Beatles hingga memiliki tiga album Billboard 200 nomor satu dalam setahun, produk kecantikan Korea tersedia di hampir seluruh CVS, Boots, dan Sephora, sampai film Korea menjadi film non-Inggris pertama yang memenangkan Oscar.

Baca juga: Lima Corak yang Harus Dimiliki Sebuah Film Agar Dapat Masuk ke Dalam Genre Bong

Sebenarnya tidak ada yang lucu dari hal-hal di atas. Saya mencoba menimpali, apa yang ia sebut itu adalah optimisme logis paling dekat atau harapan yang terus mengalir. Di tengah harga jual sembako yang membumbung tinggi disertai daya beli rendah, wajar bila orang-orang menginginkan sembako murah atau jika perlu gratis. Di tengah dingin tiada henti, orang-orang bertahan dengan membuat tubuh mereka tetap hangat atau menginginkan kemarau yang panjang.

Bayangan seperti itu menurutnya wajar bagi negara yang luluh lantak akibat perang. Harapan dan angan-angan itu rasa-rasanya hampir sama persis. Harapan menjadi yang paling dominan. Kasus itu seperti manusia yang tertatih berjalan menyusuri teriknya matahari sepanjang waktu, tanpa air tanpa pertolongan. Di kepalanya ada satu kata, air!

Kehidupan serba kekurangan tersebut masih karib di kepalanya. Euny yang mengaku tinggal di Korsel dari pertengahan tahun 1980-an hingga awal 90-an, merasakan perubahan dan bagaimana Hallyu bekerja. Meski demikian, di daerah mewah seperti Gangnam, tempatnya dibesarkan, “pemadaman listrik sering terjadi”, kenangnya. “Setidaknya sekali setiap dua bulan, saya mesti berjalan menyusuri tangga untuk sampai ke lantai 10 apartemen dikarenakan tak ada listrik untuk menggerakkan lift”.

Baca juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Pemerintahnya mulai menyadari bahwa mereka perlu all out, mengubah cara negara menghasilkan uang. Para pemimpin melakukan sesuatu yang liar untuk negara yang berhutang dan tak dilakukan negara kapitalis lainnya: membangun fasilitas internet tercepat di dunia. Tapi kenapa harus internet? Ini tak cukup memuaskan tapi dengarkan saja. “Di tahun tersebut, orang-orang Korsel memutuskan bahwa mereka membutuhkan internet yang cepat dan terjangkau, disediakan oleh sektor swasta yang dinamis, dan ada kemauan politik, dan rencana nasional untuk mencapai tujuan tersebut”.

Ketahuilah, Korea Selatan adalah salah satu dari sedikit negara demokrasi kapitalis di dunia, di mana perusahaan swasta bekerja dengan baik sesuai permintaan pemerintah. Akibatnya, perekonomian Korsel menjadi lebih baik seiring revolusi di bidang industri yang sudah dimulai sejak 1961. Demi membiayai pembangunan infrastruktur dan teknologi, pemerintah setempat memanfaatkan dana pampasan perang dari pemerintah Jepang yang diakumulasikan dengan pinjaman asing yang diberikan Amerika Serikat sepanjang tahun 1970-an.

Baca juga: Ketidakberdayaan Warganet di Hadapan Penguasa

Pada medio 1990-an, terungkaplah tabir dari apa yang tadi disebut sebagai kemauan politik dan rencana nasional. Ditandai dengan gejala demam bergelombang tapi tanpa rasa panas yang mendatangkan kecemasan. Efeknya adalah bangkitnya kesadaran akan kekuatan ekonomi melalui pijakan kuat yang ada pada diri budaya populer. Namun kontras dengan budaya yang umum diketahui sebagai hal yang hidup dalam masyarakat dengan nilai-nilai yang umumnya tidak dapat diperjualbelikan.

Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer dalam salah satu bab berjudul Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception dalam buku Dialectic of Enlightenment (1947) mengkritisi kehadiran budaya yang masif dalam masyarakat kapitalis sebagai budaya yang berasal dari produk industri semata dan tidak berasal dari ekspresi kultural masyarakat. Kemunculannya menghasilkan apa yang mereka sebut sebagai fetisisme komoditas demi melancarkan proses industri budaya.

Dia membantah habis-habisan kedua pemikir mazhab frankfurt itu. Menurutnya, justru inilah ekspresi kultural masyarakat. Saya hanya diam. Ambisi membuat budaya populer Korsel mendunia termasuk musiknya seperti K-Pop, bukan sekadar keberanian atau tak punya pilihan di tengah perang. Ledakan atau sebutlah Korean Wave sejatinya muncul dari rasa malu yang mengoyak harga diri mereka. Krisis ekonomi yang melanda Asia pada 1997-1998, telah turut banyak meruntuhkan semua hasil keajaiban ekonomi Korsel yang sudah mereka rintis selama lebih dari lima dekade.

Baca juga: Kami yang Keras Kepala atau Dia yang Tidak Mudah Menyesal

Pada saat ini, Hallyu diikuti dengan banyaknya perhatian akan produk Korsel, seperti masakan, barang elektronik, musik, dan film. Seiring fenomena itu, turut pula mempromosikan bahasa dan budaya Korea ke berbagai negara. Ilmuwan politik Amerika Serikat (AS) Joseph Nye menginterpretasikan gelombang itu sebagai “semakin populernya segala hal mengenai Korea, mulai dari fashion, film, musik, hingga masakan”.

Karena ini kemauan nasional, pemerintah sendiri sangat mendukung dan berperan aktif dalam mewabahnya Hallyu. Salah satu dukungan tersebut diwujudkan dengan menjauhkan diri dari tamparan industri serupa yang ada di belahan barat.

Profesor Sosiologi dari Universitas California, Barkeley, Yung Lee yang banyak menulis tentang budaya populer Korsel mengatakan satu-satunya hal yang dibicarakan oleh kaum muda adalah tentang drama atau musik Korea Selatan. Tepat di belakangmu, ada sekelompok anak yang lebih lapar, lebih ambisius, dan tentu saja lebih muda yang ingin menjatuhkanmu sebagai seorang objek popularitas. “Dampaknya, tentu saja, bukan dalam hal uang, tetapi dalam hal popularitasnya dan perluasan pengaruh Korsel atau soft power di luar negeri”.

Baca juga: Menjadi Bodoh Sebenarnya Rumit tapi Kita Senang Melakukannya

Dari kisah dan pengalaman Euny Hong yang merasakan jatuh bangun negaranya, menyertai setengah dekade lalu ketika saya diolok-olok oleh seseorang lantaran membenci hal yang ia sukai, mengajarkan saya sedikit hal kecil: di atas segalanya orang-orang mesti malu lalu bertahan meski itu menyakitkan.

Tapi diantara keduanya, kisah dan pengalaman seorang kawan saya ini adalah yang paling dekat. Dia sangat produktif mengisi rubrik epigram, perbandingannya 1:10 dengan saya. Saat ini dia sudah berstatus ASN dan mengabdi di sebuah sekolah menengah pertama di kota Pare-Pare. Dirinya pernah bercerita kalau di kampung halamannya, listrik baru masuk tahun 2015. Tentu saya cukup kaget saat pertama kali mendengarnya. Berbeda dengan Euny yang hanya merasakan listrik padam, ia barangkali sempat merasakan hidup tanpa listrik dalam waktu yang sangat lama.

Saya tiba-tiba membayangkan tatkala mengingat kalau ia masih sendiri, “apakah Korsel di tahun 1980-an segelap ini?” []

BACA JUGA Artikel Wahyu Gandi G lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles