Orang-orang berkata bahwa musuh besar daripada cinta adalah kecemburuan. Tapi itu keliru, musuh abadi cinta adalah kebosanan. Itulah yang dipikirkan Martha Gellhorn sebelum ditampar oleh Ernest Hemingway, si penulis patriotik, yang menjadi salah satu sebab mereka bercerai. Dengan caranya sendiri kesadaran itu juga menemui arus Queen dalam Too Much Love Will Kill You buat menyampaikan hal yang sama. Bahwa mempertahankan hubungan pecintaan yang telah mengerubuti kebosanan adalah cinta yang sudah berlebihan. Sebelum cintamu membunuhmu secara perlahan, selingkuh adalah pilihan yang wajar tapi jarang sekali berakhir bahagia.

***

Seorang gadis hingga saat ini selalu bangkit dalam ingatanku. Meskipun aku sudah berusaha melupakannya. Tapi kau tahu, pikiran menyimpan kenangan hanya untuk dirinya sendiri. Sebab pikiran memang tidak pernah mengajarkan tata cara melupakan. Aku hanya bisa mengakui, bahwa ingatanku setelah melambaikan perpisahan kepadanya masih sama baiknya ketika pertama kali melihatnya.

Dia adalah gadis yang cantik, mungkin hanya bagiku. Tapi aku berani melempar taruhan ke meja poker untuk dua kartu berbeda angka dan bunga. Aku tidak akan memperdulikan hasilnya, aku tetap All-In. Dia memiliki senyuman seperti ratu Elizabeth II memiliki Britania Raya. Senyumannya menyungging seperti matahari terbit. Agak berlebihan memang, tapi kadang-kadang kupikir senyumannya itu terlalu pantas buat dimanusiakan di wajahnya. Tubuhnya tidak tinggi jika kau berpikir seperti itu. Tapi itu membuat badannya sintal. Tentu saja dia juga memiliki rambut panjang yang mendarat anggun nyaris menyentuh tulang ekornya. Meski kau tidak akan bisa melihatnya begitu saja karena dia lebih suka menutupi keindahan itu menggunakan jilbab. Kedua kakinya ramping dan harta itu tersembunyi di dalam roknya yang panjang. Dan aroma tubuhnya sungguh memikat, meski kadang-kadang aku tidak bisa membedakan antara harum aroma pakaiannya dan aroma tubuhnya. Tapi ia selalu membuatku mabuk setiap kali berada di dekatnya. Singkatnya, secara harfiah ia membuatku berada di bawah kendali ketiaknya. (Jika kau tidak suka gambaran itu, ganti saja kata “ketiak” menjadi “mantra”.)

Baca Juga: Hari Libur Melimpah, tapi Sanggupkah Kita Berteriak Hore?

Sebagaimana jalan cerita dari sejarah cinta modern dan keterlibatan budaya pop. Saat mataku dan matanya saling bertumbukan, keadaan lobi gedung fakultas pada hari itu menyusun momen ketika semua bunyi bising merambat pelan dan setiap langkah yang diamuk kesibukan berjalan sangat perlahan. Yang bisa kudengarkan hanyalah jantungku yang seritme alunan gendang dangdut koplo dan napasku yang berembus terengah-engah. Sebelum gadis itu hilang dari pandanganku, dewa Eros telah mengirimkan pesannya. Dan hanya butuh sekitar lima detik untuk menyadari makna kritis yang terkandung dalam pesan itu. Makna itu adalah inti dari kehidupan: Cinta.

Itulah yang terjadi di hatiku saat pertama kali melihatnya. Yang aneh adalah ketika aku tahu bahwa ia menghadiri jurusan yang sama denganku. Tapi hingga dua semester berlalu aku tidak bisa melihatnya sesering yang kubayangkan. Kampusku yang berada di pinggiran kota, menerima siapa saja sampai kuota mereka terpenuhi. Ribuan orang terdaftar setiap tahunnya. Ada 50 hingga 70 mahasiswa yang memenuhi setiap ruang kelas yang idealnya hanya memuat 20 orang. (Bagi orang introvert sepertiku, butuh satu tahun agar aku bisa nyaman berada di antara keberisikan mereka). Tapi aku tidak pernah absen menghadiri kelas dan aku selalu mencarinya setiap kali menggunakan gedung fakultas itu. Tapi saat keramaian di fakultas itu menjelma hutan, aku sulit sekali menemukannnya.

Lalu aku mulai berkenalan dengan beberapa gadis dari kelas yang berbeda. Seorang gadis yang angkatannya dua tahun lebih tua dariku berhasil akrab denganku setelah menggodanya menggunakan gombalan teka-teki. Tentu saja aku tidak pernah berani menggodanya secara langsung, aku baru bisa menemuinya setelah dua minggu menggunakan bantuan media sosial. Aku lalu mengajaknya kencan tapi aku tidak berhasil pacaran. Diam-diam setiap kali mengajaknya jalan, aku selalu menghidupkan kembali momen saat aku menatap gadis di lobi itu.

Bersama gadis lainnya, aku merasakan kegembiraan tapi di hatiku hanya ada kesunyian. Dadaku sesak setiap kali melihat matanya berada di mata gadis lainnya. Hasilnya, hubunganku dengan beberapa gadis selalu berakhir sebelum serius.

Saat kegagalan-kegagalan itu menjadi emosi yang melonjak. Ingatanku membangun kerinduan. Setelah kerinduan itu memiliki waktu untuk tersusun rapi, usaha melupakan adalah hal yang mustahil seperti berusaha menceburi sungai yang sama sebanyak dua kali. Hampir setiap hari aku mendengarkan Somebody To Love dari Queen dan meletakkan intensiku saat Lord Freddie menekan lirik, “lord what you’re doing to me, I have spent all my years in believing you, but I just can’t get no relief…” (Sambil berharap kepada Tuhan, jika aku memang tidak bisa menemukannya kirimlah seseorang yang bisa membuatnya menemukanku.)

Sebelum tahun 2015 berakhir, peristiwa besar terjadi di hidupku. Bukan soal rentetan peristiwa teror dan bom bunuh diri yang terjadi di benua eropa. Bukan juga, ketika Beijing menghentikan kebijakan kontroversialnya soal satu anak lebih baik. Tidak juga soal iklan membeli rumah dapat bonus istri. Tetapi ini fakta bahwa aku berhasil pacaran dengan gadis pujaanku. Aku dan dia bertemu pada urusan kerja himpunan buat mempersiapkan penerimaan mahasiswa angkatan baru. Aku menjadi akrab dengannya dan tiga minggu kemudian aku menyatakan cinta dan dia menerimanya.

Untuk menghindari kesalahpahaman bahwa kau merasa aku terlalu memudahkan cerita ini atau melebih-lebihkannya. Barangkali kau memang benar. Aku juga tidak habis pikir dari mana semua kemudahan itu berasal. Aku sama sekali tidak menaruh curiga. Tapi aku perlu menegaskan, bahwa aku bukan pria tampan. Aku adalah bagian dari para pria yang tenggelam jika bergabung dengan habitatnya di pesta dansa. Aku mungkin bisa berada di antara wanita cantik tapi butuh berminggu-minggu berada di sana buat mengajak pulang satu orang saja, itupun dalam keadaan mabuk. Aku juga tidak memiliki jejak atletik di tubuhku, tidak ada otot-otot yang bisa kubanggakan buat bertelanjang dada. Sedangkan nilai akademikku, selalu berada lima tingkat di bawah orang lain. Singkatnya, jika melibatkan perhitungan aljabar, kecil sekali kemungkinan bagiku untuk memperoleh peluang berpacaran dengannya. Tapi nyatanya gadis itu menerima cintaku dan kami menikmatinya. Dalam ilmu peluang, itu akan disebut sebagai keberuntungan pemula.

Setiap hari kami mencuri sedikit waktu dari kantong perkuliahan untuk berkencan di kantin atau di perpustakaan. Dan jika tidak ada jam perkuliahan kami memanfaatkannya untuk mencari kafe terdekat atau menonton film di bioskop. Dia tidak punya waktu di malam hari, dia harus pulang sebelum matahari tenggelam. Dia tinggal di rumah sanak keluarganya. Yang membuatnya tidak akan sopan jika keluar di malam hari. Aku mengerti dan kami melakukannya secara repetitif dan tepat waktu. Sampai pada suatu pagi, aku mengecup bibirnya.

Sebulan setelah kami jadian, dia berulang tahun. Aku berpura-pura tidak mengetahuinya. Sebenarnya aku bukanlah tipe laki-laki yang romantis tapi aku selalu berusaha menyenangkannya sebaik mungkin.

Baca Juga: Lima Corak yang Harus Dimiliki Sebuah Film agar Dapat Masuk ke dalam Genre Bong

Hari masih pagi, aku mengajaknya ke pantai. Dengan malas-malasan ombak menyentuh bibir pantai. Suasananya masih sepi, di sana kami berteduh di bawah pohon. Aku mengucapkan selamat ulang tahun dan dia tersenyum, wajahnya mengatakan, “kau ingin memberiku apa.” Aku tidak menyiapkan apapun kecuali beberapa lembar uang di dompet. Tak ingin membuatnya kecewa. Aku berusaha membeli cincin pemberian ibunya. Dan ia menolak. Kuberi penawaran lebih mahal lima puluh ribu rupiah dari harga sebenarnya, dia tetap menolak. Aku menambahnya seratus ribu rupiah dan akhirnya dia kemudian setuju. Dengan berat hati dia mencabut cincinnya dan memberikannya kepadaku. Aku lalu bersimpuh dan menggenggam tangannya. “Berjanjilah kepadaku dalam keadaan apapun kita akan tetap bersama.” Dan ia mengangguk. Aku memasang kembali cincin itu di jari manisnya dan mengecup punggung tangannya dan dia balas mencium keningku. Aku lalu mencium bibirnya dan menyentuh dadanya, dari sana terdengar detak jantung yang memburu. Saat itu dia mengenakan gamis putih, bermotif bunga mekar, rambut dari balik jilbabnya yang merah jambu mengeluarkan aroma jeruk.

Aku lalu mengakui bahwa aku sering mendengar musik Queen saat frustrasi tidak akan bisa menikmati kebersamaan dengannya seperti sekarang. Dia tidak terlalu tertarik. Dia justru menimpalinya bahwa ia lebih suka mendengar K-Pop. “Ekso” ia menyebut EXO seperti itu. Grupband yang paling sering didengarnya. (Saat itu arus K-Pop masih tidak dapat terbendung, selalu mendapat tempat di mana saja. Termasuk sebagai wallpaper telepon pacarku dan poster yang terpajang memenuhi dinding kamarnya.) Di pantai itu ia memutar Monster, Mama dan Call Me Baby dari teleponnya, berulang-ulang sambil memberiku kuliah umum soal perjuangan para idol untuk memenuhi tuntutan profesional yang berat buat menjadi bintang K-Pop sampai beberapa dari mereka memilih bunuh diri.

Aku memahami beberapa hal mendasar bahwa K-Pop bekerja di bawah kendali industri kapitalisme, para bintang K-Pop memiliki arus yang sama dengan para buruh, dalam beberapa hal mereka sama-sama terasing dari dirinya sendiri dan terdistorsi sebagai mesin penghibur. Tapi saya tidak terlalu tertarik membahasnya lebih jauh atau mempertanyakan kontrasnya genre musik yang kami sukai. Aku hanya pernah mendengar bahwa salah satu waktu yang paling membahagiakan dari hidup adalah ketika musik pop menempati ruang yang berarti dalam hati kita. Hingga matahari semakin meninggi kami teruskan berciuman dan lipstik dibibirnya, rasa stroberi.

Namun, aku menyadari bahwa dari situlah segala sesuatunya akan berakhir. Ketika aku dan dia semakin intim, selangkah demi selangkah kubawa hubungan ini keperbedaan pemahaman melebihi perbedaan genre musik menuju jalan yang buntu. Menuju simpul ikatan yang tidak ada jalan lain buat dieratkan selain putus. Aku lalu berusaha bijaksana, aku menganggap pacaran seperti barang-barang dekoratif lainnya yang musiman, seperti ledakan yang cepat berlalu.

Sebenarnya kami, atau barangkali aku saja, telah berusaha mempertahankan hubungan itu hingga tiga tahun tiga bulan dengan modal seksual yang kuat. Aku menggenggam tangannya dan menghadapi semua jenis masalah yang sangat nyata. Kesalahpahaman yang terjadi selalu bisa menguap dengan kebesaran hati buat saling memaafkan. Rintangan dari rasa cemburu bisa diusir dengan beberapa pelukan singkat seperti embun yang diangkat sinar matahari.

Kami sempat berpikir untuk menikah mengikuti konsep-konsep pacaran yang dianut di seluruh dunia bahwa akhir bahagia dari pacaran adalah pernikahan. Sebuah keadaan di mana kau bisa melangsungkan hubungan seks secara legal dan ikut andil melestarikan lingkungan. Namun aku dan dia tidak berhasil menggapai akhir bahagia itu. Aku gagal, pacarku bosan dan dia selingkuh. Aku menamparnya dan aku sangat menyesalinya.

Meskipun dia tidak mengatakannya secara langsung bahwa alasan utama kami berhenti adalah kekurangan masing-masing yang tak dapat saling melengkapkan lagi. Aku bisa melihatnya bahwa sudah terlalu banyak lubang di hatinya yang tidak bisa kututupi dan ada banyak pecahan di tubuhku yang tidak bisa melekat di tubuhnya. Malamku lalu dipenuhi Where Did You Sleep Last Night-nya Nirvana sambil meneriakkan ketidakbecusanku dan sesekali mendengarkan If You Know That I’m Lonely-nya FUR buat menikmati kesepianku. Namun aku tidak bisa apa-apa selain berterima, bahwa memang hubungan kami sudah dipenuhi oleh kalimat perintah dan tanda seru.

***

“Kadang-kadang saya berharap bahwa saya adalah orang lain,” suatu waktu dalam ingatanku, pacarku pernah berkata seperti Pearl Kantrowitz dalam film A Walk on The Moon. Aku berharap bisa memahaminya seperti Lilian memahami mengapa menantunya, Pearl memutuskan untuk berselingkuh. Dia diam-diam meninggalkan suami dan kedua anaknya untuk pergi bersama pedagang baju blus untuk menonton konser hippie dan bercinta di sungai. Pearl dalam film itu digambarkan sebagai pahlawan bagi para perempuan yang terjebak dalam hidup sebagai aksesori pria. Suatu hal yang barangkali secara tak sadar kutekankan kepada pacarku.

Dalam novel The Great Gatsby, Daisy akan menunjukkan hal yang sama. Dia memasungkan kebebasan dengan berselingkuh, sebuah konsep yang tidak akan pernah dimengerti oleh kaum narsistik pembenci pelakor. Konsep yang juga terus menjebakku. Pearl dan Daisy merupakan gambaran bahwa dokumen sosial sedang dituliskan oleh para perempuan dan patriarki tertinggal sebagai kekolotan.

Jika kau pernah menikmati film-film Adrian Lyne seperti Unfaithfull, Indecent Proposal, Back Roads dan Fatal Attraction, alur setiap kisah perselingkuhan dapat dengan mudah ditebak. Cepat atau lambat setiap cerita perselingkuhan akan menemukan klimaks dalam bentuk kemarahan dan saling tuding. Lalu akan mengikut anti klimaksnya seperti ditunjukkan oleh Elisabeth Kubler Ross dalam bukunya On Death and Dying, berupa penyingkapan diri, penerimaaan dan pengakuan. Tetapi di tengah lintasan sopan santun masyarakat (seperti yang kujalani juga,) perselingkuhan tidak bisa berjalan sesederhana itu apalagi jika perempuanlah yang menjadi objeknya. Bahkan jika laki-laki lah yang bersalah, hukuman dan kemarahan yang meluap-luap justru senantiasa melempari perempuan dengan berjibun dosa. Dengan kata lain, untuk perempuan, tidak ada perselingkuhan yang berakhir bahagia.

Baca Juga: Kalau Memang Harus Mati, Mengapa Tidak dengan Memainkan Gim Online?

Kesetiaan adalah altar suci hubungan percintaan, itulah antitesa dari perselingkuhan yang membuat Anna dan Vronsky dalam novel Anna Karennina mengalami kecemasan keruh yang membuatnya terus berada dalam rasa bersalah yang tiada akhir. Dan itu tidak hanya menyerang dirinya tapi juga orang-orang terdekatnya. Kita sama-sama tahu akhir hidup dari Anna. Sungguh menyedihkan bukan.

***

“Kau ingin saya memberitahumu sesuatu?” Pacarku pernah berkata seperti itu, saat ia berdiri di lemari buku perpustakaan dengan suara yang pelan, hendak menyusun pengakuan. “Aku tipe orang yang cepat bosan.”

“Serius.” Kataku.

“Aku hanya ingin kau tahu sifatku.”

“Baik.”

“Saya bisa menyakitimu secara tak sadar. Dan itu akan membuatku sakit.”

Aku mengusap jilbabnya. Berusaha membuatnya tenang. Kenyataanya saat itu perasaanku berkecamuk. Apa yang akan menyebabkannya, apa yang akan membuatnya bosan. Setiap saat aku bisa ditinggalkan, aku akan ditinggalkan. Dan aku merasa bersalah, karena saat itu aku justru lebih sibuk memperhatikan diri sendiri. Sedangkan perasaanya kuletakkan di luar jangkauanku.

Aku dan pacarku merupakan bagian dari “telur pecah”-nya Lacan. Pacarku membuat hidupnya secara eksistensial dikendalikan oleh berbagai kehilangan. Setidaknya itu yang bisa kupahami dan itu bisa saja salah. Pacarku sempat bercerita ayahnya meninggal saat ia masih berusia dua tahun. Sebuah kehilangan yang tidak mungkin bisa aku tutupi. Meskipun ia tidak mungkin menyadari bahwa kehilangan itulah yang membuatnya berpisah dariku dan menikmati hubungan yang sama dengan laki-laki lainnya.

Baca Juga: Ia Membenci Dangdut tapi Rhoma Irama Abadi

Namun pada dasarnya, setiap orang menjalani hidupnya untuk menemukan kepenuhan yang tidak mungkin. Jika setiap orang tidak ingin menerima dan mengakui kekurangannya. Hasrat untuk memiliki “yang lain” akan terus mengamuk dan hasrat untuk menjadi utuh tidak akan pernah cukup. Di sinilah Queen perlu didengarkan. “Too much love will kill you, if you can’t make up your mind, torn between the lover and the love you leave behind, you’re headed for disaster ‘cos you never read the signs, too much love will kill you every time.—Terlalu banyak cinta akan membunuhmu, jika kau tidak segara mengambil keputusan antara menjadi kekasih dan cinta yang kau tinggalkan, kau menuju bencana karena kau tidak membaca tanda-tanda itu, terlalu banyak cinta akan membunuhmu, setiap saat.”

***

Semenjak aku menamparnya, kami berjarak dan aku tidak pernah mengucapkan selamat tinggal ataupun mengucapkan kata maaf. Setelah lulus, aku menikah dengan gadis cantik, (kalau aku memujinya lebih lanjut ia akan bertingkah seperti Chopper dalam anime OnePiece dan itu sungguh menggemaskan.) Istriku seorang periang yang ingin melahirkan tiga anak kembar.  Setiap pagi ia suka sekali mendengar Dance Monkey-nya Tones and I, tentu saja sambil berjoget. Ia selalu mengajakku, “dance for me, dance for me, dance for me oh-oh,” tapi aku tidak punya cukup pagi buatnya. Aku harus segera menuju kantorku yang berjarak satu jam dari rumah, bekerja sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil sungguh melelahkan. Aku selalu berangkat setelah mengecup keningnya dan ia mencium tanganku. Di malam hari secara provokatif ia akan membuatku mendengarkan Bad Guy-nya Billie Eilish. Dasar istri bohemian.

Aku tidak tahu , jika kau bertanya kepadaku apakah mantan pacarku masih bersama dengan pacarnya. Tapi aku mendengar bahwa ia amat kesusahan mengurus karir akademiknya. Ia butuh hingga enam tahun agar bisa lulus. Setelah itu aku kehilangan kontaknya. Aku hanya berharap, (di manapun kau berada, seaneh apapun rasanya, belajarlah memakan sayur-sayuran. Makan buah-buahan sebelum makan yang berat-berat akan membantumu mengobati sakit maag yang selalu membuatmu rese. Jika gigimu masih sering sakit dan kau tidak juga memiliki keberanian menemui dokter gigi, berkumur air hangat dengan larutan garam akan sedikit membantumu meski itu tidak akan menyelesaikan masalahmu. Jangan terlalu maraton menonton K-Drama di malam hari, sampai kau lupa tidur. Jagalah kesehatanmu dan jagalah senyumanmu, agar tetap secantik biasanya.)

Baca Juga: Cara Mengobati Tumit Keseleo Akibat Kebodohanmu Sendiri

Terakhir, ada sesuatu yang lebih penting dari perpisahan kami untuk kujadikan sebagai landasan hidup. Bahwa aku tidak mungkin mencintai istriku tanpa pernah belajar mencintainya. Kau harus segera memahami, berselingkuh dan diselingkuhi memiliki rasa sakit yang sama. Sebab cinta seperti pedang, jika kau tidak memperlakukannya dengan baik, Kau akan melukai dirimu sendiri.

BACA JUGA artikel Ma’ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles